MENANTI SEBUAH KEPUTUSAN
Rasa ini sudah tak terbendung lagi. Keinginan tuk menikahimu sudah semakin mendesak. Apa yang selama ini kita jalani menggambarkan keutuhan cintaku padamu...(sepucuk surat dari penjara)Sore itu agak mendung. Matahari terlalu cepat berlalu. Ditemani motor bebek kunyuk ini kucoba memacu jalan supaya tidak terkena hujan. Cepat dan cepat. Bayanganku tak lepas pada sosok seorang wanita yang dulu pernah aku cinta. Pada sosok yang sudah kering dan kurus dan pada sosok wanita seperti mayat hidup. Tapi aku harus akui bahwa aku masih tetap mencintainya.
Kabar tentang dia kudapati dari Iya
anak ande. Setelah lama menghilang dia muncul kembali. aku ingin sekali meminta maaf karena telah menyia-nyiakannya, menyakitinya dan mengecewakan hidupnya. Aku tak bermaksud demikian tapi takdir membawa kita pada perjalanan yang panjang.
Bermula sepulang dari
footsal, aku ajak dirimu minum di pinggir jalan KTM. Tempat yang begitu sunyi di malam hari. Nampaknya kita masih betah dan sangat ingin berlama-lama di sana. Satu minuman sudah habis dan kamu memintanya lagi padaku. Sisa minumanku pun harus kuserahkan padamu karena tak mungkin mencari minuman lain karena hari sudah larut malam, tak ada warung yang buka.
"Uda...aku mencintaimu..lebih dari apapun".
"Aku juga mencintaimu sayang...kalau nanti uda sudah memiliki usaha sendiri, pasti uda akan melamarmu pada orang tuamu".
Janji itu terpatri didalam hati. Sampai suatu ketika akupun sudah memiliki usaha sendiri dan kamu mendatangiku di saat aku sudah hampir melupakanmu. Aku sudah punya pacar lain dan kamu selama ini kemana? Dimana? lalu tiba-tiba datang dengan pengaduan bahwa kamu sudah disetubuhi olehku.Kapan? Oleh siapa? dan hasil visum itu milik siapa?
Beribu pertanyaan tak dapat kujawab sendiri, tapi jujur aku memang masih mencintaimu apapun keadaanmu sekarang. Temui aku secepatnya di Paledang sayang...aku mencintaimu dan ingin menikahimu...