KONSEP PENDIDIKAN WANITA MENURUT Hj. RAHMAH EL YUNUSIYYAHA. Pendahuluan
Sosok wanita merupakan wujud yang selalu hangat diperbincangkan sepanjang masa. Sebelum agama Islam datang, wanita dianggap manusia yang tidak utuh, dikerdilkan dan diremehkan. Bahkan pada beberapa suku di Arab saat itu, kelahiran wanita dianggap aib dan beban keluarga sehingga ia harus dibunuh.
Islam datang membawa misi kesetaraan manusia antara pria dan wanita dengan tidak dibeda-bedakan berdasarkan kelas sosial (kasta), ras dan jenis kelamin. Menurut ajaran Islam, yang membedakan seseorang dari yang lainnya adalah kualitas ketakwaannya, kebaikannya di dunia dan amal baik yang ditinggalkannya setelah ia meninggal dunia. Allah SWT menjelaskan tentang kesetaraan ini dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13 sebagai berikut:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada deskriminasi antara wanita dan pria. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama termasuk memperoleh pendidikan, karena pendidikan adalah kewajiban penting bagi setiap individu muslim. Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan kewajiban muslim menuntut pendidikan di manapun dan kapanpun, termasuk ayat yang pertama diturunkan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Walaupun Islam telah memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada pria dan wanita dalam hal pendidikan, namun masing-masing daerah di dunia memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi pendidikan untuk wanita. Ada yang memandang bahwa wanita tidak perlu dididik secara formal di sekolah. Karena pada akhirnya nanti mereka juga akan berkutik pada urusan rumah tangga dengan ruang gerak sumur, dapur dan kasur. Dengan tradisi yang demikian itu, mengakibatkan wanita tidak mampu berkarya bahkan tumbuh suatu sikap pesimistis dalam diri mereka. Padahal seorang wanita adalah sosok yang sangat penting karena di tangannyalah terletak keberhasilan suatu bangsa. Bangsa terdiri dari masyarakat dan masyarakat terbentuk dari rumah tangga yang di dalamnya terdapat peran wanita. Begitu juga dalam mencapai kejayaan agama Islam tentu memerlukan peranan wanita.
Melihat perlakuan masyarakat yang tidak seimbang antara pria dan wanita dalam memperoleh pendidikan yang layak, maka sebagian kecil wanita yang sadar tampil untuk memperjuangkan nasib kaumnya. Mereka tak tinggal diam. Berbagai upaya ditempuh untuk terwujudnya cita-cita meningkatkan derajat wanita ke tingkat yang wajar. Salah satu cara yang ditempuh yaitu melalui penyelenggaraan pendidikan untuk kaum wanita. Diantara perintis ini adalah R.A Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus dan Hj. Rahmah El Yunusiyyah.
Hj. Rahmah El Yunusiyyah lahir di kota kecil Padangpanjang Minangkabau. Masyarakat Minangkabau sejak dulu sampai sekarang menganut sistem matrilineal yaitu sistem keturunan berakar melalui garis ibu. Ibu yang disebut sebagai Bundo Kanduang memiliki kedudukan rajo usali, kedudukan yang sudah ascribed; status yang dipercaya muncul bersamaan dengan terciptanya alam Minangkabau. Wanita yang dipresentasikan sebagai Bundo Kanduang itu adalah makhluk asli yang utama dan pertama dalam penciptaan alam Minangkabau.
Walaupun kedudukan wanita dikatakan paling utama tapi dalam praktiknya sehari-hari, kekuasaan berada dalam pegangan mamak yaitu saudara pria dari pihak ibu. Dengan demikian pria memiliki kesempatan besar untuk mengaktualisasikan dirinya dalam lingkungan keluarga, sedangkan wanita tidak diberikan kesempatan yang sama. Aktifitas wanita hanya di dalam rumah. Mereka tidak diperbolehkan keluar apalagi untuk menuntut ilmu di sekolah dan dipaksa untuk puas dengan statusnya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya meskipun tanpa ilmu yang memadai.
Melihat keadaan seperti ini, Rahmah bertekad untuk mendirikan sebuah sekolah khusus wanita. Dengan adanya sekolah ini, wanita mendapat kesempatan untuk meningkatkan kedudukannya dalam masyarakat dan mampu mandiri tanpa selalu bergantung pada orang lain. Inilah yang menjadi fokus tulisan dengan tujuan menjawab pertanyaan bagaimana konsep pendidikan wanita menurut Hj. Rahmah El Yunusiyyah yang terealisasi dalam pendirian Diniyyah School Puteri Padangpanjang (kemudian dikenal dengan nama Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang, Sumatera Barat)
B. Biografi Hj. Rahmah El Yunusiyyah
Rahmah El Yunusiyyah adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Lahir di kenegarian Bukit Surungan, Padangpanjang, Sumatera Barat pada pagi hari Jumat tanggal 1 Rajab 1318H/20 Desember 1900M. Kelahirannya dibidani oleh kakak ibunya (Hj. Khadijah) yang memang mempunyai profesi sebagai dukun beranak.
Sejak kecil Rahmah terkenal sebagai anak yang keras hati, berkemauan keras, bercita-cita tinggi, pantang berputus asa dan berjiwa besar. Meskipun ia sering sakit-sakitan yang menyebabkan badannya kurus dan kulit kering kehitam-hitaman, namun kepribadiannya yang elok tetap menonjol.
Rahmah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat pemalu. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berpegang teguh kepada adat dan agama. Meskipun ayahnya seorang ulama besar, tapi Rahmah tidak banyak mendapat pendidikan dari ayahnya karena telah meninggal ketika Rahmah masih kecil. Posisi pendidik ini digantikan oleh kakaknya Zainuddin Labay dan Muh. Rasyad. Bersama kakaknya Rahmah belajar menulis dan membaca huruf Arab dan Latin. Ia Juga aktif belajar sendiri dengan cara membaca buku-buku yang dikarang Labay. Ketika Diniyyah School didirikan oleh kakaknya Zainuddin Labay pada tahun 1915, Rahmahpun belajar di sana. Lingkungan inilah yang mempengaruhi pola pikirnya di kemudian hari.
Pada usia 16 tahun, Rahmah dinikahkan dengan seorang ulama muda berpikiran maju bernama Haji Bahauddin Latif berasal dari Sumpur, Padangpanjang. Pernikahan itu berlangsung di rumah gadang pada hari Senin 15 Mei 1916 atas permintaan kakaknya Zainuddin Labay.
Haji Bahauddin Latif bukan saja seorang guru agama tapi juga seorang politikus di Minangkabau pada masa itu. Sedangkan Rahmah bercita-cita menjadi pendidik tanpa dimasuki aliran politik apapun. Karena perbedaan pendirian ini, akhirnya Haji Bahauddin menceraikan Rahmah secara baik-baik setelah berumah tangga selama enam tahun tanpa memperoleh anak. Setelah perceraian itu, Rahmah mencurahkan segala pikiran dan tenaganya dalam berbagai lapangan kegiatan masyarakat. Rahmah berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu tanggal 9 Zulhijjah 1388H/26 Pebruari 1969M pada pukul 19.30 di rumahnya sendiri di Padangpanjang.
C. Diniyyah School Puteri Sebagai Perwujudan Konsep Pendidikan Wanita
Meskipun Rahmah tidak pernah mendapatkan pendidikan formal, tapi ia dapat mengikuti pelajaran di Diniyyah School dengan baik. Sikapnya yang kritis, selalu merasa tidak puas dengan sistem koedukasi yang diterapkan di Diniyyah School. Penjelasan yang diberikan guru kepada siswa puteri mengenai persoalan khusus kewanitaan dirasa kurang memuaskan. Oleh karena itu Rahmah kemudian memperdalam ilmu agamanya di sore hari dengan berguru kepada Syekh Abdul Karim Amrullah (Inyik Haji Rasul), ayah Buya Hamka di Surau Jembatan Besi, Padangpanjang. Tercatat Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Muhammad Djamil Djambek dan Syekh Daud Rasyidi juga pernah menjadi gurunya.
Selain ilmu agama, Rahmah juga mempelajari ilmu kebidanan dengan mengikuti kursus di Rumah Sakit Umum Kayu Tanam dan mendapatkan izin praktek dari dokter. Kemudian ia belajar ilmu kesehatan dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dengan para dokter yang ada di rumah sakit tersebut. Ilmu lain seperti gymnastik, ilmu hayat, ilmu alam, ilmu bumi, olah raga renang dan keterampilan wanita seperti memasak dan menjahit juga dipelajarinya dengan sungguh-sungguh.
Keahlian dan kepintaran Rahmah ini sangat langka dimiliki wanita Minangkabau pada saat itu. Walaupun aturan adat menempatkan wanita dalam posisi yang lebih tinggi dari kedudukan pria, namun dalam kenyataan hidup sosial pada dasa warsa abad ke-20 bahkan sesudahnya, tidaklah demikian. Wanita dikurung dalam rumah tangga (the domestic prisoner) dan menerima fungsinya sebagai istri dari suami dan ibu dari anak-anaknya meskipun tanpa pendidikan yang memadai. Wanita jauh tertinggal dari pria. Mereka hanya pasrah dengan keadaan dan menganggap bahwa diri mereka adalah makhluk yang lemah.
Hal demikian dialami sendiri oleh Rahmah ketika belajar di Diniyyah School dan di Surau Jembatan Besi. Bersama tiga orang temannya, Rasuna Said dari Maninjau (di kemudian hari diberi tanda jasa oleh negara sebagai Pahlawan Nasional), Nanisah dari Banu Hampu dan Djawana Basyir dari Lubuk Alung. Mereka kurang mendapat penjelasan agama secara mendalam tentang persoalan yang berkaitan dengan kewanitaan. Mereka enggan untuk bertanya sementara gurunya semua pria. Padahal wanita memiliki permasalahan yang komplek dan rumit.
Menurut Rahmah ketidakadilan ini muncul karena wanita tidak memperoleh kesempatan belajar yang sama dengan pria. Padahal mendidik wanita berarti mendidik seluruh manusia. Wanitalah yang mengendalikan jalur kehidupan manusia. Wanita yang melahirkan generasi penerus selanjutnya. Dan wanita berperan sebagai pendidik dalam rumah tangga. Rumah tangga merupakan tiang masyarakat, sedangkan masyarakat adalah tiang negara. Melalui rumah tangga inilah negara dapat menjadi baik. Jika wanita tidak pernah memperoleh pendidikan, bagaimana bisa mengatur rumah tangga dengan baik dan memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya.
Atas dasar pemikiran itulah Rahmah El Yunusiyyah mendirikan sekolah khusus wanita yang diberi nama Diniyyah School Puteri pada tanggal 1 Nopember 1923 di kota Padangpanjang. Keberadaan Diniyyah School Puteri tak lepas dari keberadaan Diniyyah School yang sudah berdiri sebelumnya pada tahun 1915. Dukungan yang besar datang pula dari teman-teman Rahmah yang tergabung dalam organisasi PMDS (Persatuan Murid-Murid Diniyyah School). Mahmud Yunus mencatat bahwa inilah sekolah wanita Islam pertama yang ada di Indonesia. Keberanian Rahmah untuk mewujudkan cita-citanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sosial ketika itu. Ide pembaharuan Islam yang sedang berkembang melalui pelajar dari Timur Tengah mulai menampakkan hasil. Diantara tokoh pembaharuan itu adalah Thaher Jalaludin, Ahmad Khatib dan empat serangkai muridnya; Muhammad Jamil Jambek di Bukittinggi, Haji Abdul Karim Amrullah di Maninjau, Abdullah Ahmad di Padang dan Muhammad Thaib Umar di Batusangkar. Mereka inilah yang disebut dengan Kaum Muda.
Pada saat itu ditemui pula tulisan-tulisan ulama Kaum Muda dalam majalah al-Munir, seperti yang ditulis oleh Abdullah Ahmad, Zainuddin Labay dan Muhammad Jamil Jambek. Begitu pula dalam surat kabar Sunting Melayu yang dipimpin oleh Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Syahrir. Pada saat yang bersamaan Rahmah menyaksikan banyak putera nusantara yang berkiprah dalam pergerakan nasional; berdirinya Boedi Oetomo (1908), Sarekat Dagang Islam (1911) dan PNI (1927).
Pengaruh situasi sosial itu memberikan peluang kepada Rahmah untuk mendirikan Diniyyah School Puteri dengan berlandaskan pada al-Quran dan Sunnah. Ayat yang dijadikan landasan utama tersebut adalah surat Muhammad ayat 7:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
Berdasarkan landasan ideal tersebut, Rahmah mengembangkan impian yang ingin dicapainya yaitu peningkatan derajat kaum wanita dengan memberikan pendidikan yang diatur dan didasarkan atas ajaran agama Islam. Cita-cita itu dirumuskan menjadi tujuan Diniyyah School Puteri:
Membentuk puteri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Membentuk puteri yang berjiwa Islam dilaksanakan selama empat tahun pertama pendidikan di Diniyyah School Puteri. Tiga tahun berikutnya diberi bekal pendidikan yang bisa membentuk mereka menjadi ibu pendidik yang mencakup tiga pengertian; pendidik dalam rumah tangga, pendidik di sekolah dan pendidik dalam masyarakat yakni menjadi pemimpin wanita dalam organisasi, lembaga sosial dan menjadi muballighat.
Sebagai ibu rumah tangga, wanita mengajarkan anak-anaknya berjalan, berbahasa, cara makan yang baik dan sopan santun. Untuk menunjang tugas dan fungsi wanita ini diperlukan ilmu pengetahuan dan keterampilan khusus seperti bertenun, jahit-menjahit, mencelup kain dengan berbagai warna, masak-memasak, cara menghiasi ruangan (home decoration) dan keterampilan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K).
Dengan pelajaran bertenun Rahmah ingin menanamkan sikap cinta terhadap karya sendiri, melatih sifat teliti dan sabar dalam menghadapi berbagai persoalan serta mampu menghubungkan tali silaturrahmi dengan bijaksana. Melalui keterampilan jahit-menjahit Rahmah ingin melatih muridnya gemar menjahit sendiri dan meningkatkan kreativitas dalam menciptakan sesuatu yang baru. Pendidikan keterampilan ini merupakan kegiatan ekstrakurikuler. Pada tahun 1936 pelajaran ini dimasukkan ke dalam kurikulum yang diajarkan secara formal menjadi satu mata pelajaran kerajinan tangan. Begitu pula dengan pelajaran masak-memasak juga diajarkan secara formal di hari Selasa. Masing-masing kelompok murid membawa bahan baku masakan untuk diolah. Hasil masakan tersebut dinikmati bersama-sama. Jenis masakan yang dibuat beragam mulai dari masakan tradisional sampai pada masakan Eropa seperti bestek daging. Sedangkan cara menghiasi ruangan diajarkan kepada murid kelas tertinggi.
Dengan keterampilan tersebut diharapkan wanita mampu menciptakan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Sebagai istri mampu memikat hati suaminya dengan perhatian dan pelayanan yang baik, membuat hidangan masakan yang lezat bergizi untuk keluarga, mengatur rumah agar terlihat bersih dan rapi sehingga seluruh anggota keluarga betah tinggal di rumah. Dan sebagai ibu, ia mampu memberikan perhatian untuk anak-anaknya agar mereka dapat menjadi generasi penerus yang beriman dan bertakwa.
Dengan keterampilan itu pula Rahmah mengajarkan wanita untuk mandiri, mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa menggantungkan harapan pada orang lain. Bila takdir menentukan ia harus hidup sendiri tanpa suami, apakah karena bercerai atau meninggal dunia, wanita tidak harus mengemis tapi bisa berusaha sendiri dengan bekal ilmu dan keterampilan yang sudah dimilikinya. Hasil keterampilan tersebut bisa dijadikan produk bisnis yang bernilai jual karena memiliki daya seni yang begitu tinggi.
Menjadi pendidik dalam rumah tangga bukan berarti seorang wanita harus terkurung di dalam rumah. Wanita berhak untuk mengaktualisasikan diri di luar rumah. Dengan potensi yang dimilikinya seperti sifat lemah lembut dan mengayomi, diharapkan wanita bisa menjadi pendidik yang baik di sekolah dengan persyaratan sebagai berikut:
Mengetahui dan menguasai pengetahuan yang akan diajarkan, berpengetahuan tentang cara-cara mengajar (metodik dan diadik), berpengetahuan tentang sifat-sifat mental (ilmu jiwa pendidikan, ilmu jiwa individu dan kelompok), bersifat tenang, sabar, simpatik dalam tingkah dan kata, tidak gegabah dan tidak terburu-buru. Mengerti akan asas politik pendidikan yang dilaksanakan, mengerti tentang cara-cara untuk mencapai tujuan, sanggup menempatkan diri sebagai pemimpin dari murid-muridnya, mempunyai akhlak yang luhur mulia, mempunyai rasa tanggung jawab dan cinta yang merata terhadap murid-muridnya, menjadi pengawas kesejahteraan mental dan fisik dari murid-muridnya….
Persyaratan untuk menjadi guru tersebut dijabarkan dalam mata pelajaran seperti ilmu pedagogi, psikologi dan ilmu pembantu lainnya. Dengan persyaratan tersebut, lulusan Diniyyah School Puteri memiliki kompetensi mengajar. Seiring perkembangannya, semakin banyak permintaan tenaga guru untuk mengajar di berbagai daerah dalam negeri maupun luar negeri. Pada tahun 1932 dan 1935 Rahmah mengantar lulusan Diniyyah School Puteri ke Malaya (Malaysia) untuk menjadi guru di berbagai sekolah di Penang dan Trenggano.
Selain menjadi guru, lulusan Diniyyah School Puteri bisa pula menjadi pemimpin dalam masyarakat. Menurut Rahmah peluang itu bisa sebagai pemimpin dalam organisasi, lembaga sosial atau menjadi muballighat. Untuk menjadi seorang pemimpin harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Berpengetahuan luas dan berpengalaman banyak, berakhlak tinggi dan mulia, bermartabat tinggi terutama sebagai seorang suggestor yang ulung, bermental yang kuat, tidak mudah gugup/panik dalam kegoncangan fisik yang menimpa masyarakat pimpinannya, berkemauan kuat dan tidak mudah bosan serta putus asa, tegas, tidak ragu-ragu dalam keputusan-keputusan dan tindakannya, memiliki sifat demokratis, sabar, tabah, rendah hati (bukan rendah diri), cinta dan bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya.
Bila persyaratan itu dipenuhi oleh seorang wanita maka pantas untuk menjadi pemimpin yang baik dalam masyarakat. Di samping itu wanita juga bisa menjadi muballighat berbekal ilmu keguruan dan ditambah dengan ilmu pengetahuan yang lebih luas seperti ilmu alam, ilmu politik, sosiologi dan ilmu jiwa. Untuk melatih jiwa kepemimpinan tersebut, Rahmah mengajarkan muridnya agar jangan beramal karena mengharapkan balasan dari manusia tapi berbuatlah dengan ikhlas karena Allah. Mereka juga dilatih bersosialisasi dalam masyarakat, berdakwah, memimpin dan dipimpin.
Ilmu yang sudah dimiliki di bangku sekolah dipraktekkan di asrama di bawah bimbingan guru asrama. Berbagai kegiatan diadakan seperti muhadarah (cara berpidato) untuk melatih keberanian dan berpikir. Kegiatan koperasi dengan membuka warung koperasi setiap hari pada jam yang telah ditentukan, kegiatan ubudiyyah (membaca dan menghafal al-Quran), shalat berjamaah dan mengikuti wirid. Kegiatan penunjang lain adalah PKK (pendidikan Kesejahteraan Keluarga), pramuka, kesenian dan olah raga.
Asrama bukan saja berfungsi sebagai tempat pondokan murid-murid yang datang dari luar daerah tetapi juga sebagai tempat pendidikan fisik dan psikis. Dengan adanya asrama, memberikan kesempatan yang besar bagi guru asrama untuk mendidik, melatih dirinya sebagai kader pemimpin, pendidik dan pengawas masyarakat umum.
Nama Diniyyah School Puteripun semakin terdengar secara luas dalam masyarakat. Nama yang unik itu sengaja dirancang oleh Rahmah supaya menarik minat masyarakat untuk bersekolah di Diniyyah School Puteri khususnya kaum wanita. Nama yang terdiri dari tiga kata; Diniyyah, School dan Puteri dirangkai dalam tiga bahasa yaitu bahasa Arab, Belanda dan Indonesia. Ini dimaksudkan untuk menarik perhatian tiga golongan yang ada dalam masyarakat ketika itu diantaranya golongan yang berpendidikan barat, golongan masyarakat Islam dan golongan budaya Indonesia.
Pada awal berdirinya, murid-murid yang belajar di Diniyyah School Puteri sebanyak 71 orang yang sebagian besar adalah wanita yang sudah berumah tangga. Mereka belajar di salah satu ruangan Mesjid Pasar Usang Padangpanjang dengan cara yang sangat sederhana dengan sistem halaqah; murid duduk di lantai mengelilingi guru yang menghadapi sebuah meja kecil dan mengikuti pelajaran yang diterangkan guru tersebut. Kurikulum yang dipakai juga sederhana; pengetahuan agama, bahasa Arab, pengetahuan umum praktis dan jahit-menjahit.
Waktu belajar bagi anak wanita di sore hari dan ibu rumah tangga di malam hari. Pada tahun 1926 ibu-ibu rumah tangga ini tidak diterima lagi tapi hanya anak-anak wanita saja. Guru yang mengajar mereka ketika itu hanya empat orang yaitu Rahmah sendiri merangkap pimpinan, Darwisah, Nanisah dan Djawana Basjir.
Dua tahun kemudian Diniyyah School Puteri pindah ke sebuah rumah bertingkat di Pasar Usang yang disewa untuk belajar di lantai pertama dan asrama di lantai kedua. Perlengkapannya mulai disediakan seperti bangku, meja dan papan tulis.
Jumlah murid semakin bertambah. Begitu pula yang berasal dari luar daerah dan ruangan yang tersedia tidak cukup menampung semua murid. Atas dasar itu para guru dan murid mengadakan rapat untuk membangun gedung baru yang lebih lengkap. Tapi ketika baru saja dibangun, kota Padangpanjang dilanda gempa yang sangat dahsyad sehingga merobohkan semua bangunan yang ada di sana. Empat puluh hari pasca gempa, Rahmah membuat sekolah dengan gubuk bambu, berlantai tanah dan beratap rumbia. Untuk membangun sekolah yang permanen, Rahmah mengumpulkan dana dari masyarakat dan donator yang mau membantu. Dana tersebut digunakan untuk membangun sekolah dua lantai berikut dengan asrama.
Seiring perkembangannya, Diniyyah School Puteri atau Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang sudah melalui tiga dekade; jaman penjajahan Belanda, Jepang dan Indonesia merdeka. Dalam masa itu, Perguruan Diniyyah Puteri mengalami banyak perubahan dan perbaikan. Sampai saat ini ada beberapa jenis lembaga pendidikan yang bernaung dalam Perguruan Diniyyah Puteri, yaitu: TKI (Taman Kanak-Kanak Islam), MI (Madrasah Ibtidaiyyah), DMP (Diniyyah Menengah Pertama), PKMI (Persiapan KMI), KMI (Kulliyyatul Muallimat El Islamiyyat), STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), PGTKI dan PGSDI. Menurut data tahun 2008, tercatat sudah 19000 alumni Perguruan Diniyyah Puteri yang berkecimpung dalam masyarakat di berbagai bidang di tanah air bahkan sampai keluar negeri.
D. Penutup
Munculnya pemikiran Rahmah El Yunusiyyah mengenai konsep pendidikan wanita ini bermula dari pandangannya yang melihat posisi kaum wanita berada dalam kondisi yang lemah. Wanita hanya menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya tanpa berbekal ilmu yang memadai. Mereka tidak diberdayakan dan merasa diri tidak berkualitas. Suasana ini diperparah dengan sulitnya bagi wanita untuk mengakses pendidikan seperti layaknya kaum pria di jaman itu.
Menurut Rahmah, sebagai seorang wanita seharusnya tahu kedudukan dan potensi yang dimiliki. Dengan segala potensi ini wanita seharusnya memiliki kesempatan yang sama dengan pria dalam memperoleh kesempatan untuk belajar di sekolah. Hanya wanita lah yang mampu meningkatkan derajat kaumnya. Wanita harus mandiri, mampu berdiri di kaki sendiri tanpa selalu bergantung kepada orang lain. Wanita harus diberi pelajaran berbagai ilmu yang dapat menunjang tugasnya sebagai pendidik. Baik itu pendidik di rumah tangga, pendidik di sekolah dan pendidik di dalam masyarakat. Pendidik di rumah tangga berfungsi sebagai istri yang mampu melayani suami, sebagai ibu yang bisa memberikan perhatian kepada anak-anaknya sehingga mereka dapat tumbuh menjadi anak yang shaleh. Pendidik di sekolah yang bisa mengajar dengan baik sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Dan pendidik dalam masyarakat yang aktif dalam kegiatan organisasi, lembaga sosial dan menjadi mubalighah.
Konsep pendidikan yang diusung Rahmah El Yunusiyyah ini direalisasikan dalam bentuk pendirian sekolah yang diberi nama Diniyyah School Puteri di Padangpanjang. Sejak mulai berdiri, sekolah ini selalu mengalami perubahan dan perbaikan. Sampai sekarang terdapat beberapa jenis lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Diniyyah School Puteri (kemudian dikenal dengan Perguruan diniyyah Puteri). Lembaga tersebut yaitu: TKI (Taman Kanak-Kanak Islam), MI (Madrasah Ibtidaiyyah), DMP (Diniyyah Menengah Pertama), PKMI (Persiapan KMI), KMI (Kulliyyatul Muallimat El Islamiyyat), STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), PGTKI dan PGSDI.
Meskipun Rahmah El Yunusiyyah sudah tiada, tapi jasa-jasanya tetap dikenang oleh banyak orang khususnya alumni Perguruan Diniyyah Puteri dari masa ke masa. Pada tahun 1998 pemerintah menetapkan Hj. Rahmah El Yunusiyyah sebagai salah seorang pahlawan nasioanl sejajar dengan R.A Kartini. Perjuangannya mengangkat derajat kaum wanita sangat dikenang dan dijadikan tauladan bagi generasi sesudahnya.
E. Daftar Referensi
Amir M.S., Adat Minangkabau: Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1999, cet. ke-2
Azra, Azyumardi, Surau: Pendidikan Islam Tradisional Dalam Transisi dan Modernisasi, Jakarta: Logos, 2003, cet. ke-2
Padangmedia.com, Diniyyah Puteri Kebanggaan Umat, 15 Nopember 2008
Rasyad, Aminuddin, H. Rahmah El Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El Yunusi Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Pendidikan Islam, Jakarta: Pengurus Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang, 1991
Rasyad, Aminuddin, Rahmah El Yunusiyyah: Kartini Perguruan Islam, dalam Taufiq Abdullah (ed.), Manusia dalam Kemelut Sejarah, Jakarta: LP3ES, 1994
Qazan, Shalah, Membangun Gerakan Menuju Pembebasan Perempuan, terj. Khazin Abu Fakih, Solo: Era Intermedia, 2001, cet. ke-1
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, 1996
Wanita Indonesia