Selasa, 30 Juni 2009




KUNJUNGAN KE DINIYYAH PUTERI
5 MEI 2009

KENANGAN INDAH SEMASA SEKOLAH DI DINIYYAH PUTERI
Sudah sepuluh tahun tidak pernah berkunjung lagi ke Diniyyah Puteri (DP). Rindu melihat suasana anak asrama, masakan etek, lingkungan sekolah dan perpustakaan tempat mejeng penulis sehari-hari selepas dari rutinitas sekolah. Hanya susunan buku-buku di perpustakaan sekolah ini yang menjadi hiburan di sana selama kurun waktu enam tahun; 1993-1999 (DMP dan KMI/PK).
Di samping membaca buku, penulis juga hobi bernyanyi. Organisasi PMDS turut menjadi wadah pengembangan kreativitas bernyanyi lagu-lagu Minang yang sangat populer di masyarakat sekitar. Bila ada tamu yang datang ke sekolah kami karena studi tour atau sekedar bertamasya, penulis sering menyambut dengan lantunan lagu yang diiringi musik orgen. Sering pula di akhir acara pertemuan, kami menyuguhkan lagi atraksi permainan instrumental talempong untuk para tamu-tamu.
Puncak kreativitas kami muncul pada saat perayaan ulang tahun DP yang jatuh pada tanggal 1 November tiap tahun. Sekali dalam lima tahun dirayakan bersama secara besar-besaran. Momen ini merupakan momen terindah bagi penulis karena setiap hari dalam satu minggu, kami pentas seni; bernyanyi, menari, main alat musik dan drama peran di atas panggung maupun di halaman sekolah. Tak lupa kami juga memamerkan hasil kerajinan tangan seperti sulaman, jahitan, bordiran dan kreasi kue ulang tahun, hasil belajar keterampilan dengan guru di sekolah. Tak jarang hasil karya ini dilelang atau dijual pada para tamu pengunjung di hari ulang tahun DP.
Tak heran jika keterampilan-ketrampilan tersebut berdampak sekali dalam kehidupan kami sekarang setelah keluar dari asrama. Peran sebagai ibu rumah tangga sangat dibantu oleh ilmu yang sudah kami dapatkan di asrama dan di sekolah. Suami dan anak-anak suka dengan masakan ibu di rumah, dekorasi rumah, kenyamanan dan kebersihan selalu terjaga, begitu nasehat ibu Raji'ah Bei pada kami dulu di asrama. Bila ada pakaian yang rusak atau minta diperbaiki, penulis mampu menjahit dengan rapi. Penulis masih ingat, hasil bordiran berupa taplak meja di pakai oleh Ibu Isnaniah Shaleh di kantornya ketika beliau yang memimpin DP dulu.
Kini kenangan itu tetap ada. Dengan mengunjungi DP lagi, penulis mereview kembali tujuan pendidikan DP yang sudah dicanangkan Ibunda Rahmah Al Yunusiyyah tahun 1923 dulu. Sampai sekarang masih kokoh dipertahankan oleh generasi penerus, termasuk penulis sendiri. Dengan semangat yang beliau usung, begitu berpengaruh dalam jiwa penulis. Wanita harus mandiri, wanita harus berkarya dan mampu menjadi pendidik di rumahtangga, sekolah dan masyarakat. Insyaallah, tujuan DP akan selalu berkumandang di hati wanita Indonesia khususnya alumni DP yang sudah tersebar di seluruh pelosok negeri bahkan luar negeri.

KUNJUNGAN KE DINIYYAH PUTERI, 5 MEI 2009
Sepuluh tahun telah berlalu, DP masih tetap seperti yang dulu, berdiri kokoh di posisinya. Bahkan semakin melebarkan sayapnya. Jika dulu belum ada gedung khusus untuk MI sekarang sudah ada dan sangat megah. Jika dulu belum ada Training centre, sekarang sudah ada di sebelah gedung komputer yang sering kami kunjungi dulu. Mess untuk orang tua juga lebih bagus, bersih dan tertata rapi. Anak-anak sudah dapat mengecap arus komunikasi global seperti internet yang on line di asrama. Cara makan di dapur juga mengalami renovasi. Mereka tidak lagi ribet menyediakan piring dan peralatan makan lainnya, tetapi sudah disediakan asrama dalam bentuk yang sama untuk semua anak; kotak makan plastik yang rapi dan seragam.
Anak usia dini tertampung di PAUD bersebelahan dengan TK. Hanya satu yang berubah, tidak ada lagi Baba di sana. Dulu untuk pertama kali kami belajar dengan Baba yang dikirim Universitas Al Azhar Mesir untuk mendidik kami anak KMI/PK dalam ilmu agama Islam. Tapi ternyata sekarang sudah tidak ada lagi kerjasama dengan pihak Universitas Al Azhar itu. Perubahan lain terlihat pada penjagaan anak asrama. Dulu penjagaan begitu ketat. Setiap anak yang keluar dari asrama pasti ditanyakan satpam, apa tujuan keluar padahal bukan jam belajar di sekolah. Letak pos satpam juga begitu dekat di pintu asrama. Tapi kini posnya agak berjarak keluar mendekati gedung yang dulu berfungsi sebagai poliklinik. Satpam pun tidak terlalu galak.
Semua perubahan menyesuaikan perkembangan zaman. Dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak asrama. Ketika berkunjung lagi, secara pribadi penulis merasakan sambutan hangat guru-guru asrama dan teman yang masih di DP; mengajar, kuliah atau menjadi guru asrama. Sambutan yang penuh persaudaraan dan persahabatan persis ketika dulu penulis masih menempuh pendidikan di sana. Semua masih mengingat ketika dulu penulis menjadi siswa teladan di sana selama bertahun-tahun dan biduanita lagu Minang jika ada acara pentas seni.
Salam buat Ibu Butet, Ibu Ros, Yessy Putriyati, Kak Izul, Fitri dan adik-adikku di kelas akhir KMI/PK. Tulisan ini dirilis untuk anda semua. Foto-foto ini dimuat sesuai permintaan Fitri dan teman-teman. Tetap kontak ya.

1 Juli 2009

DP Bundo Kanduangku


Kamis, 25 Juni 2009

KONSEP PENDIDIKAN WANITA MENURUT Hj. RAHMAH EL YUNUSIYYAH

A. Pendahuluan

Sosok wanita merupakan wujud yang selalu hangat diperbincangkan sepanjang masa. Sebelum agama Islam datang, wanita dianggap manusia yang tidak utuh, dikerdilkan dan diremehkan. Bahkan pada beberapa suku di Arab saat itu, kelahiran wanita dianggap aib dan beban keluarga sehingga ia harus dibunuh.

Islam datang membawa misi kesetaraan manusia antara pria dan wanita dengan tidak dibeda-bedakan berdasarkan kelas sosial (kasta), ras dan jenis kelamin. Menurut ajaran Islam, yang membedakan seseorang dari yang lainnya adalah kualitas ketakwaannya, kebaikannya di dunia dan amal baik yang ditinggalkannya setelah ia meninggal dunia. Allah SWT menjelaskan tentang kesetaraan ini dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13 sebagai berikut:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada deskriminasi antara wanita dan pria. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama termasuk memperoleh pendidikan, karena pendidikan adalah kewajiban penting bagi setiap individu muslim. Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan kewajiban muslim menuntut pendidikan di manapun dan kapanpun, termasuk ayat yang pertama diturunkan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Walaupun Islam telah memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada pria dan wanita dalam hal pendidikan, namun masing-masing daerah di dunia memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi pendidikan untuk wanita. Ada yang memandang bahwa wanita tidak perlu dididik secara formal di sekolah. Karena pada akhirnya nanti mereka juga akan berkutik pada urusan rumah tangga dengan ruang gerak sumur, dapur dan kasur. Dengan tradisi yang demikian itu, mengakibatkan wanita tidak mampu berkarya bahkan tumbuh suatu sikap pesimistis dalam diri mereka. Padahal seorang wanita adalah sosok yang sangat penting karena di tangannyalah terletak keberhasilan suatu bangsa. Bangsa terdiri dari masyarakat dan masyarakat terbentuk dari rumah tangga yang di dalamnya terdapat peran wanita. Begitu juga dalam mencapai kejayaan agama Islam tentu memerlukan peranan wanita.[1]

Melihat perlakuan masyarakat yang tidak seimbang antara pria dan wanita dalam memperoleh pendidikan yang layak, maka sebagian kecil wanita yang sadar tampil untuk memperjuangkan nasib kaumnya. Mereka tak tinggal diam. Berbagai upaya ditempuh untuk terwujudnya cita-cita meningkatkan derajat wanita ke tingkat yang wajar. Salah satu cara yang ditempuh yaitu melalui penyelenggaraan pendidikan untuk kaum wanita. Diantara perintis ini adalah R.A Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus dan Hj. Rahmah El Yunusiyyah.

Hj. Rahmah El Yunusiyyah lahir di kota kecil Padangpanjang Minangkabau. Masyarakat Minangkabau sejak dulu sampai sekarang menganut sistem matrilineal yaitu sistem keturunan berakar melalui garis ibu.[2] Ibu yang disebut sebagai Bundo Kanduang memiliki kedudukan rajo usali, kedudukan yang sudah ascribed; status yang dipercaya muncul bersamaan dengan terciptanya alam Minangkabau.[3] Wanita yang dipresentasikan sebagai Bundo Kanduang itu adalah makhluk asli yang utama dan pertama dalam penciptaan alam Minangkabau.

Walaupun kedudukan wanita dikatakan paling utama tapi dalam praktiknya sehari-hari, kekuasaan berada dalam pegangan mamak yaitu saudara pria dari pihak ibu. Dengan demikian pria memiliki kesempatan besar untuk mengaktualisasikan dirinya dalam lingkungan keluarga, sedangkan wanita tidak diberikan kesempatan yang sama. Aktifitas wanita hanya di dalam rumah. Mereka tidak diperbolehkan keluar apalagi untuk menuntut ilmu di sekolah dan dipaksa untuk puas dengan statusnya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya meskipun tanpa ilmu yang memadai.

Melihat keadaan seperti ini, Rahmah bertekad untuk mendirikan sebuah sekolah khusus wanita. Dengan adanya sekolah ini, wanita mendapat kesempatan untuk meningkatkan kedudukannya dalam masyarakat dan mampu mandiri tanpa selalu bergantung pada orang lain. Inilah yang menjadi fokus tulisan dengan tujuan menjawab pertanyaan bagaimana konsep pendidikan wanita menurut Hj. Rahmah El Yunusiyyah yang terealisasi dalam pendirian Diniyyah School Puteri Padangpanjang (kemudian dikenal dengan nama Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang, Sumatera Barat)

B. Biografi Hj. Rahmah El Yunusiyyah

Rahmah El Yunusiyyah adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Lahir di kenegarian Bukit Surungan, Padangpanjang, Sumatera Barat pada pagi hari Jumat tanggal 1 Rajab 1318H/20 Desember 1900M. Kelahirannya dibidani oleh kakak ibunya (Hj. Khadijah) yang memang mempunyai profesi sebagai dukun beranak.

Sejak kecil Rahmah terkenal sebagai anak yang keras hati, berkemauan keras, bercita-cita tinggi, pantang berputus asa dan berjiwa besar. Meskipun ia sering sakit-sakitan yang menyebabkan badannya kurus dan kulit kering kehitam-hitaman, namun kepribadiannya yang elok tetap menonjol.

Rahmah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat pemalu. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berpegang teguh kepada adat dan agama. Meskipun ayahnya seorang ulama besar, tapi Rahmah tidak banyak mendapat pendidikan dari ayahnya karena telah meninggal ketika Rahmah masih kecil. Posisi pendidik ini digantikan oleh kakaknya Zainuddin Labay dan Muh. Rasyad. Bersama kakaknya Rahmah belajar menulis dan membaca huruf Arab dan Latin. Ia Juga aktif belajar sendiri dengan cara membaca buku-buku yang dikarang Labay. Ketika Diniyyah School didirikan oleh kakaknya Zainuddin Labay pada tahun 1915, Rahmahpun belajar di sana. Lingkungan inilah yang mempengaruhi pola pikirnya di kemudian hari.

Pada usia 16 tahun, Rahmah dinikahkan dengan seorang ulama muda berpikiran maju bernama Haji Bahauddin Latif berasal dari Sumpur, Padangpanjang. Pernikahan itu berlangsung di rumah gadang pada hari Senin 15 Mei 1916 atas permintaan kakaknya Zainuddin Labay.

Haji Bahauddin Latif bukan saja seorang guru agama tapi juga seorang politikus di Minangkabau pada masa itu. Sedangkan Rahmah bercita-cita menjadi pendidik tanpa dimasuki aliran politik apapun. Karena perbedaan pendirian ini, akhirnya Haji Bahauddin menceraikan Rahmah secara baik-baik setelah berumah tangga selama enam tahun tanpa memperoleh anak. Setelah perceraian itu, Rahmah mencurahkan segala pikiran dan tenaganya dalam berbagai lapangan kegiatan masyarakat. Rahmah berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu tanggal 9 Zulhijjah 1388H/26 Pebruari 1969M pada pukul 19.30 di rumahnya sendiri di Padangpanjang.[4]

C. Diniyyah School Puteri Sebagai Perwujudan Konsep Pendidikan Wanita

Meskipun Rahmah tidak pernah mendapatkan pendidikan formal, tapi ia dapat mengikuti pelajaran di Diniyyah School dengan baik. Sikapnya yang kritis, selalu merasa tidak puas dengan sistem koedukasi yang diterapkan di Diniyyah School. Penjelasan yang diberikan guru kepada siswa puteri mengenai persoalan khusus kewanitaan dirasa kurang memuaskan. Oleh karena itu Rahmah kemudian memperdalam ilmu agamanya di sore hari dengan berguru kepada Syekh Abdul Karim Amrullah (Inyik Haji Rasul), ayah Buya Hamka di Surau Jembatan Besi, Padangpanjang. Tercatat Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Muhammad Djamil Djambek dan Syekh Daud Rasyidi juga pernah menjadi gurunya.

Selain ilmu agama, Rahmah juga mempelajari ilmu kebidanan dengan mengikuti kursus di Rumah Sakit Umum Kayu Tanam dan mendapatkan izin praktek dari dokter. Kemudian ia belajar ilmu kesehatan dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dengan para dokter yang ada di rumah sakit tersebut. Ilmu lain seperti gymnastik, ilmu hayat, ilmu alam, ilmu bumi, olah raga renang dan keterampilan wanita seperti memasak dan menjahit juga dipelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Keahlian dan kepintaran Rahmah ini sangat langka dimiliki wanita Minangkabau pada saat itu. Walaupun aturan adat menempatkan wanita dalam posisi yang lebih tinggi dari kedudukan pria, namun dalam kenyataan hidup sosial pada dasa warsa abad ke-20 bahkan sesudahnya, tidaklah demikian. Wanita dikurung dalam rumah tangga (the domestic prisoner) dan menerima fungsinya sebagai istri dari suami dan ibu dari anak-anaknya meskipun tanpa pendidikan yang memadai. Wanita jauh tertinggal dari pria. Mereka hanya pasrah dengan keadaan dan menganggap bahwa diri mereka adalah makhluk yang lemah.

Hal demikian dialami sendiri oleh Rahmah ketika belajar di Diniyyah School dan di Surau Jembatan Besi. Bersama tiga orang temannya, Rasuna Said dari Maninjau (di kemudian hari diberi tanda jasa oleh negara sebagai Pahlawan Nasional), Nanisah dari Banu Hampu dan Djawana Basyir dari Lubuk Alung. Mereka kurang mendapat penjelasan agama secara mendalam tentang persoalan yang berkaitan dengan kewanitaan. Mereka enggan untuk bertanya sementara gurunya semua pria. Padahal wanita memiliki permasalahan yang komplek dan rumit.

Menurut Rahmah ketidakadilan ini muncul karena wanita tidak memperoleh kesempatan belajar yang sama dengan pria. Padahal mendidik wanita berarti mendidik seluruh manusia. Wanitalah yang mengendalikan jalur kehidupan manusia. Wanita yang melahirkan generasi penerus selanjutnya. Dan wanita berperan sebagai pendidik dalam rumah tangga. Rumah tangga merupakan tiang masyarakat, sedangkan masyarakat adalah tiang negara. Melalui rumah tangga inilah negara dapat menjadi baik. Jika wanita tidak pernah memperoleh pendidikan, bagaimana bisa mengatur rumah tangga dengan baik dan memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya.

Atas dasar pemikiran itulah Rahmah El Yunusiyyah mendirikan sekolah khusus wanita yang diberi nama Diniyyah School Puteri pada tanggal 1 Nopember 1923 di kota Padangpanjang. Keberadaan Diniyyah School Puteri tak lepas dari keberadaan Diniyyah School yang sudah berdiri sebelumnya pada tahun 1915. Dukungan yang besar datang pula dari teman-teman Rahmah yang tergabung dalam organisasi PMDS (Persatuan Murid-Murid Diniyyah School). Mahmud Yunus mencatat bahwa inilah sekolah wanita Islam pertama yang ada di Indonesia.[5] Keberanian Rahmah untuk mewujudkan cita-citanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sosial ketika itu. Ide pembaharuan Islam yang sedang berkembang melalui pelajar dari Timur Tengah mulai menampakkan hasil. Diantara tokoh pembaharuan itu adalah Thaher Jalaludin, Ahmad Khatib dan empat serangkai muridnya; Muhammad Jamil Jambek di Bukittinggi, Haji Abdul Karim Amrullah di Maninjau, Abdullah Ahmad di Padang dan Muhammad Thaib Umar di Batusangkar. Mereka inilah yang disebut dengan Kaum Muda.

Pada saat itu ditemui pula tulisan-tulisan ulama Kaum Muda dalam majalah al-Munir, seperti yang ditulis oleh Abdullah Ahmad, Zainuddin Labay dan Muhammad Jamil Jambek. Begitu pula dalam surat kabar Sunting Melayu yang dipimpin oleh Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Syahrir. Pada saat yang bersamaan Rahmah menyaksikan banyak putera nusantara yang berkiprah dalam pergerakan nasional; berdirinya Boedi Oetomo (1908), Sarekat Dagang Islam (1911) dan PNI (1927).[6]

Pengaruh situasi sosial itu memberikan peluang kepada Rahmah untuk mendirikan Diniyyah School Puteri dengan berlandaskan pada al-Quran dan Sunnah. Ayat yang dijadikan landasan utama tersebut adalah surat Muhammad ayat 7:

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Berdasarkan landasan ideal tersebut, Rahmah mengembangkan impian yang ingin dicapainya yaitu peningkatan derajat kaum wanita dengan memberikan pendidikan yang diatur dan didasarkan atas ajaran agama Islam. Cita-cita itu dirumuskan menjadi tujuan Diniyyah School Puteri:

Membentuk puteri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Membentuk puteri yang berjiwa Islam dilaksanakan selama empat tahun pertama pendidikan di Diniyyah School Puteri. Tiga tahun berikutnya diberi bekal pendidikan yang bisa membentuk mereka menjadi ibu pendidik yang mencakup tiga pengertian; pendidik dalam rumah tangga, pendidik di sekolah dan pendidik dalam masyarakat yakni menjadi pemimpin wanita dalam organisasi, lembaga sosial dan menjadi muballighat.[7]

Sebagai ibu rumah tangga, wanita mengajarkan anak-anaknya berjalan, berbahasa, cara makan yang baik dan sopan santun. Untuk menunjang tugas dan fungsi wanita ini diperlukan ilmu pengetahuan dan keterampilan khusus seperti bertenun, jahit-menjahit, mencelup kain dengan berbagai warna, masak-memasak, cara menghiasi ruangan (home decoration) dan keterampilan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K).

Dengan pelajaran bertenun Rahmah ingin menanamkan sikap cinta terhadap karya sendiri, melatih sifat teliti dan sabar dalam menghadapi berbagai persoalan serta mampu menghubungkan tali silaturrahmi dengan bijaksana. Melalui keterampilan jahit-menjahit Rahmah ingin melatih muridnya gemar menjahit sendiri dan meningkatkan kreativitas dalam menciptakan sesuatu yang baru. Pendidikan keterampilan ini merupakan kegiatan ekstrakurikuler. Pada tahun 1936 pelajaran ini dimasukkan ke dalam kurikulum yang diajarkan secara formal menjadi satu mata pelajaran kerajinan tangan. Begitu pula dengan pelajaran masak-memasak juga diajarkan secara formal di hari Selasa. Masing-masing kelompok murid membawa bahan baku masakan untuk diolah. Hasil masakan tersebut dinikmati bersama-sama. Jenis masakan yang dibuat beragam mulai dari masakan tradisional sampai pada masakan Eropa seperti bestek daging. Sedangkan cara menghiasi ruangan diajarkan kepada murid kelas tertinggi.

Dengan keterampilan tersebut diharapkan wanita mampu menciptakan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Sebagai istri mampu memikat hati suaminya dengan perhatian dan pelayanan yang baik, membuat hidangan masakan yang lezat bergizi untuk keluarga, mengatur rumah agar terlihat bersih dan rapi sehingga seluruh anggota keluarga betah tinggal di rumah. Dan sebagai ibu, ia mampu memberikan perhatian untuk anak-anaknya agar mereka dapat menjadi generasi penerus yang beriman dan bertakwa.

Dengan keterampilan itu pula Rahmah mengajarkan wanita untuk mandiri, mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa menggantungkan harapan pada orang lain. Bila takdir menentukan ia harus hidup sendiri tanpa suami, apakah karena bercerai atau meninggal dunia, wanita tidak harus mengemis tapi bisa berusaha sendiri dengan bekal ilmu dan keterampilan yang sudah dimilikinya. Hasil keterampilan tersebut bisa dijadikan produk bisnis yang bernilai jual karena memiliki daya seni yang begitu tinggi.

Menjadi pendidik dalam rumah tangga bukan berarti seorang wanita harus terkurung di dalam rumah. Wanita berhak untuk mengaktualisasikan diri di luar rumah. Dengan potensi yang dimilikinya seperti sifat lemah lembut dan mengayomi, diharapkan wanita bisa menjadi pendidik yang baik di sekolah dengan persyaratan sebagai berikut:

Mengetahui dan menguasai pengetahuan yang akan diajarkan, berpengetahuan tentang cara-cara mengajar (metodik dan diadik), berpengetahuan tentang sifat-sifat mental (ilmu jiwa pendidikan, ilmu jiwa individu dan kelompok), bersifat tenang, sabar, simpatik dalam tingkah dan kata, tidak gegabah dan tidak terburu-buru. Mengerti akan asas politik pendidikan yang dilaksanakan, mengerti tentang cara-cara untuk mencapai tujuan, sanggup menempatkan diri sebagai pemimpin dari murid-muridnya, mempunyai akhlak yang luhur mulia, mempunyai rasa tanggung jawab dan cinta yang merata terhadap murid-muridnya, menjadi pengawas kesejahteraan mental dan fisik dari murid-muridnya….[8]

Persyaratan untuk menjadi guru tersebut dijabarkan dalam mata pelajaran seperti ilmu pedagogi, psikologi dan ilmu pembantu lainnya. Dengan persyaratan tersebut, lulusan Diniyyah School Puteri memiliki kompetensi mengajar. Seiring perkembangannya, semakin banyak permintaan tenaga guru untuk mengajar di berbagai daerah dalam negeri maupun luar negeri. Pada tahun 1932 dan 1935 Rahmah mengantar lulusan Diniyyah School Puteri ke Malaya (Malaysia) untuk menjadi guru di berbagai sekolah di Penang dan Trenggano.

Selain menjadi guru, lulusan Diniyyah School Puteri bisa pula menjadi pemimpin dalam masyarakat. Menurut Rahmah peluang itu bisa sebagai pemimpin dalam organisasi, lembaga sosial atau menjadi muballighat. Untuk menjadi seorang pemimpin harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Berpengetahuan luas dan berpengalaman banyak, berakhlak tinggi dan mulia, bermartabat tinggi terutama sebagai seorang suggestor yang ulung, bermental yang kuat, tidak mudah gugup/panik dalam kegoncangan fisik yang menimpa masyarakat pimpinannya, berkemauan kuat dan tidak mudah bosan serta putus asa, tegas, tidak ragu-ragu dalam keputusan-keputusan dan tindakannya, memiliki sifat demokratis, sabar, tabah, rendah hati (bukan rendah diri), cinta dan bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya.[9]

Bila persyaratan itu dipenuhi oleh seorang wanita maka pantas untuk menjadi pemimpin yang baik dalam masyarakat. Di samping itu wanita juga bisa menjadi muballighat berbekal ilmu keguruan dan ditambah dengan ilmu pengetahuan yang lebih luas seperti ilmu alam, ilmu politik, sosiologi dan ilmu jiwa. Untuk melatih jiwa kepemimpinan tersebut, Rahmah mengajarkan muridnya agar jangan beramal karena mengharapkan balasan dari manusia tapi berbuatlah dengan ikhlas karena Allah. Mereka juga dilatih bersosialisasi dalam masyarakat, berdakwah, memimpin dan dipimpin.

Ilmu yang sudah dimiliki di bangku sekolah dipraktekkan di asrama di bawah bimbingan guru asrama. Berbagai kegiatan diadakan seperti muhadarah (cara berpidato) untuk melatih keberanian dan berpikir. Kegiatan koperasi dengan membuka warung koperasi setiap hari pada jam yang telah ditentukan, kegiatan ubudiyyah (membaca dan menghafal al-Quran), shalat berjamaah dan mengikuti wirid. Kegiatan penunjang lain adalah PKK (pendidikan Kesejahteraan Keluarga), pramuka, kesenian dan olah raga.

Asrama bukan saja berfungsi sebagai tempat pondokan murid-murid yang datang dari luar daerah tetapi juga sebagai tempat pendidikan fisik dan psikis. Dengan adanya asrama, memberikan kesempatan yang besar bagi guru asrama untuk mendidik, melatih dirinya sebagai kader pemimpin, pendidik dan pengawas masyarakat umum.

Nama Diniyyah School Puteripun semakin terdengar secara luas dalam masyarakat. Nama yang unik itu sengaja dirancang oleh Rahmah supaya menarik minat masyarakat untuk bersekolah di Diniyyah School Puteri khususnya kaum wanita. Nama yang terdiri dari tiga kata; Diniyyah, School dan Puteri dirangkai dalam tiga bahasa yaitu bahasa Arab, Belanda dan Indonesia. Ini dimaksudkan untuk menarik perhatian tiga golongan yang ada dalam masyarakat ketika itu diantaranya golongan yang berpendidikan barat, golongan masyarakat Islam dan golongan budaya Indonesia.

Pada awal berdirinya, murid-murid yang belajar di Diniyyah School Puteri sebanyak 71 orang yang sebagian besar adalah wanita yang sudah berumah tangga. Mereka belajar di salah satu ruangan Mesjid Pasar Usang Padangpanjang dengan cara yang sangat sederhana dengan sistem halaqah; murid duduk di lantai mengelilingi guru yang menghadapi sebuah meja kecil dan mengikuti pelajaran yang diterangkan guru tersebut. Kurikulum yang dipakai juga sederhana; pengetahuan agama, bahasa Arab, pengetahuan umum praktis dan jahit-menjahit.

Waktu belajar bagi anak wanita di sore hari dan ibu rumah tangga di malam hari. Pada tahun 1926 ibu-ibu rumah tangga ini tidak diterima lagi tapi hanya anak-anak wanita saja. Guru yang mengajar mereka ketika itu hanya empat orang yaitu Rahmah sendiri merangkap pimpinan, Darwisah, Nanisah dan Djawana Basjir.

Dua tahun kemudian Diniyyah School Puteri pindah ke sebuah rumah bertingkat di Pasar Usang yang disewa untuk belajar di lantai pertama dan asrama di lantai kedua. Perlengkapannya mulai disediakan seperti bangku, meja dan papan tulis.

Jumlah murid semakin bertambah. Begitu pula yang berasal dari luar daerah dan ruangan yang tersedia tidak cukup menampung semua murid. Atas dasar itu para guru dan murid mengadakan rapat untuk membangun gedung baru yang lebih lengkap. Tapi ketika baru saja dibangun, kota Padangpanjang dilanda gempa yang sangat dahsyad sehingga merobohkan semua bangunan yang ada di sana. Empat puluh hari pasca gempa, Rahmah membuat sekolah dengan gubuk bambu, berlantai tanah dan beratap rumbia. Untuk membangun sekolah yang permanen, Rahmah mengumpulkan dana dari masyarakat dan donator yang mau membantu. Dana tersebut digunakan untuk membangun sekolah dua lantai berikut dengan asrama.

Seiring perkembangannya, Diniyyah School Puteri atau Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang sudah melalui tiga dekade; jaman penjajahan Belanda, Jepang dan Indonesia merdeka. Dalam masa itu, Perguruan Diniyyah Puteri mengalami banyak perubahan dan perbaikan. Sampai saat ini ada beberapa jenis lembaga pendidikan yang bernaung dalam Perguruan Diniyyah Puteri, yaitu: TKI (Taman Kanak-Kanak Islam), MI (Madrasah Ibtidaiyyah), DMP (Diniyyah Menengah Pertama), PKMI (Persiapan KMI), KMI (Kulliyyatul Muallimat El Islamiyyat), STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), PGTKI dan PGSDI. Menurut data tahun 2008, tercatat sudah 19000 alumni Perguruan Diniyyah Puteri yang berkecimpung dalam masyarakat di berbagai bidang di tanah air bahkan sampai keluar negeri.[10]

D. Penutup

Munculnya pemikiran Rahmah El Yunusiyyah mengenai konsep pendidikan wanita ini bermula dari pandangannya yang melihat posisi kaum wanita berada dalam kondisi yang lemah. Wanita hanya menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya tanpa berbekal ilmu yang memadai. Mereka tidak diberdayakan dan merasa diri tidak berkualitas. Suasana ini diperparah dengan sulitnya bagi wanita untuk mengakses pendidikan seperti layaknya kaum pria di jaman itu.

Menurut Rahmah, sebagai seorang wanita seharusnya tahu kedudukan dan potensi yang dimiliki. Dengan segala potensi ini wanita seharusnya memiliki kesempatan yang sama dengan pria dalam memperoleh kesempatan untuk belajar di sekolah. Hanya wanita lah yang mampu meningkatkan derajat kaumnya. Wanita harus mandiri, mampu berdiri di kaki sendiri tanpa selalu bergantung kepada orang lain. Wanita harus diberi pelajaran berbagai ilmu yang dapat menunjang tugasnya sebagai pendidik. Baik itu pendidik di rumah tangga, pendidik di sekolah dan pendidik di dalam masyarakat. Pendidik di rumah tangga berfungsi sebagai istri yang mampu melayani suami, sebagai ibu yang bisa memberikan perhatian kepada anak-anaknya sehingga mereka dapat tumbuh menjadi anak yang shaleh. Pendidik di sekolah yang bisa mengajar dengan baik sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Dan pendidik dalam masyarakat yang aktif dalam kegiatan organisasi, lembaga sosial dan menjadi mubalighah.

Konsep pendidikan yang diusung Rahmah El Yunusiyyah ini direalisasikan dalam bentuk pendirian sekolah yang diberi nama Diniyyah School Puteri di Padangpanjang. Sejak mulai berdiri, sekolah ini selalu mengalami perubahan dan perbaikan. Sampai sekarang terdapat beberapa jenis lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Diniyyah School Puteri (kemudian dikenal dengan Perguruan diniyyah Puteri). Lembaga tersebut yaitu: TKI (Taman Kanak-Kanak Islam), MI (Madrasah Ibtidaiyyah), DMP (Diniyyah Menengah Pertama), PKMI (Persiapan KMI), KMI (Kulliyyatul Muallimat El Islamiyyat), STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), PGTKI dan PGSDI.

Meskipun Rahmah El Yunusiyyah sudah tiada, tapi jasa-jasanya tetap dikenang oleh banyak orang khususnya alumni Perguruan Diniyyah Puteri dari masa ke masa. Pada tahun 1998 pemerintah menetapkan Hj. Rahmah El Yunusiyyah sebagai salah seorang pahlawan nasioanl sejajar dengan R.A Kartini. Perjuangannya mengangkat derajat kaum wanita sangat dikenang dan dijadikan tauladan bagi generasi sesudahnya.

E. Daftar Referensi

Amir M.S., Adat Minangkabau: Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1999, cet. ke-2

Azra, Azyumardi, Surau: Pendidikan Islam Tradisional Dalam Transisi dan Modernisasi, Jakarta: Logos, 2003, cet. ke-2

Padangmedia.com, Diniyyah Puteri Kebanggaan Umat, 15 Nopember 2008

Rasyad, Aminuddin, H. Rahmah El Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El Yunusi Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Pendidikan Islam, Jakarta: Pengurus Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang, 1991

Rasyad, Aminuddin, Rahmah El Yunusiyyah: Kartini Perguruan Islam, dalam Taufiq Abdullah (ed.), Manusia dalam Kemelut Sejarah, Jakarta: LP3ES, 1994

Qazan, Shalah, Membangun Gerakan Menuju Pembebasan Perempuan, terj. Khazin Abu Fakih, Solo: Era Intermedia, 2001, cet. ke-1

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, 1996



[1] Shalah Qazan, Membangun Gerakan Menuju Pembebasan Perempuan, terj. Khazin Abu Fakih (Solo: Era Intermedia, 2001), cet. ke-1, h. 2.

[2] Amir M.S., Adat Minangkabau: Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1999), cet. ke-2, h. 22.

[3] Azyumardi Azra, Surau: Pendidikan Islam Tradisional Dalam Transisi dan Modernisasi (Jakarta: Logos, 2003), cet. ke-2,h. 1.

[4] Aminuddin Rasyad, H. Rahmah El Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El Yunusi Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Pendidikan Islam (Jakarta: Pengurus Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang, 1991), h. 35

[5] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1996), h.69

[6] Junaidatul Munawarah, Rahmah El Yunusiyyah: Pelopor Pendidikan Perempuan, dalam Jajat Burhanuddin (ed.), Ulama Perempuan Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 7

[7] Aminuddin Rasyad, Rahmah El Yunusiyyah: Kartini Perguruan Islam, dalam Taufiq Abdullah (ed.), Manusia dalam Kemelut Sejarah (Jakarta: LP3ES, 1994), h. 223

[8] Aminuddin Rasyad, H. Rahmah El Yunusiyyah dan Zainuddin Labay, op.cit., h. 312

[9] Aminuddin, Ibid

[10] Padangmedia.com, Diniyyah Puteri Kabanggaan Umat, 15 Nopember 2009


Cileungsi, 25 Juni 2009

Wanita Indonesia

MODEL UJIAN AKHIR NASIONAL BERBASIS KECERDASAN JAMAK

Diumumkannya hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) pada hari Senin kemarin berdampak serius bagi anak-anak Indonesia yang sudah menempuh ujian tersebut beberapa hari silam. Bagi yang lulus dengan nilai memuaskan dianggap sebagai sebuah prestasi yang baik. Bahkan di suatu daerah anak yang lulus dengan nilai tertinggi mendapatkan hadiah tiket pesawat terbang pulang pergi berlibur. Tetapi bagaimana dengan anak yang tidak lulus ujian? Mereka menangis, meraung bahkan pingsan seketika mendengar kabar dirinya tak lulus menempuh tes tertulis tersebut.

Pertanyaannya, apakah kecerdasan siswa hanya dinilai dengan hasil tes berupa angka-angka yang dipatok 5,20 atau 5,50? Apakah kecerdasan anak Indonesia sekerdil itu? Tidak lulusnya mereka dalam menempuh ujian bukan saja menyisakan kepedihan di hati siswa yang “gagal” tetapi juga membawa trauma bagi adik kelas yang akan menempuh ujian tahun depan atau tahun berikutnya. Adik kelas yang menyaksikan kejadian traumatis itu kemudian menyimpulkan bahwa UAN wajib menjadi momok kita di masa satu atau dua tahun ke depan sampai satu helai kertas kelulusan benar-benar sudah di tangan. Dan tak sedikit pula kemudian muncul pobia sekolah pada siswa tersebut.

Tak lulus ujian, tak mau pulang

Di sebuah SMK wilayah Rengat Riau misalnya, tercatat 60 siswa yang tidak lulus tahun ini. Sungguh di luar kebiasaan tahun-tahun silam. Sekolah yang terkenal sebagai sekolah percontohan ini mencetak rekor paling tinggi untuk tidak meluluskan siswa. Bagaimana dengan sekolah lain yang “biasa-biasa” saja? Anak-anak yang dinyatakan tidak lulus, berkumpul bersama menyerukan nasib mereka sampai dini hari tidak mau pulang ke rumah. Sebagian ada yang mau pulang tetapi diiming-imingi dulu dengan harapan palsu “kamu lulus ujian, sana pulang…” Itu pun hanya sebagian kecil yang mau pulang. Meski di rumah mereka dihadang dengan berbagai pertanyaan yang tentu membuat batinnya tambah berat saja.

Akankah UAN kita pertahankan sebagai sebuah penilaian akhir bagi anak-anak kita? Dengan teknik tes mengisi bulatan yang cocok dengan pensil 2B, yang jelas-jelas menguntungkan kaum pebisnis pensil? Berapa keuntungan yang diperoleh kaum tersebut dengan patokan setiap anak menghabiskan dua puluh ribu rupiah untuk persiapan ujian; satu set pensil beserta penghapus, surutan dan penggaris serta papan ujiannya. Alat itu harus asli dan terbaca komputer. Kalau tidak produk asli, jelas-jelas sudah terancam tidak lulus hanya karena bulatan pensil tidak terbaca komputer.

Jika UAN kita renovasi, model seperti apakah yang bisa dijadikan panduan dalam menilai keberhasilan siswa sehingga lebih bersifat manusiawi dan bisa membuat anak nyaman? Sepertinya kita harus lebih banyak belajar lagi dari pengalaman yang sudah menerapkan UAN ini dan melihat serta memahami efek dari hasil UAN tersebut.

Model ujian berbasis kecerdasan jamak (multiple intelligences)

Beberapa panduan bisa dijadikan pertimbangan dalam memunculkan model UAN yang lebih mengerti siswa diantaranya mengacu pada teori kecerdasan jamak (multiple intelligences) yang dimunculkan oleh Howard Gardner. Gardner mengatakan bahwa pada setiap individu sebenarnya memiliki kecerdasan yang beragam; kecerdasan visual spasial, body kinestetik, logika matematik, interpersonal, intrapersonal, kecerdasan musik, kecerdasan naturalistik dan spiritual. Delapan kecerdasan ini dijadikan basis dalam menerapkan strategi pembelajaran untuk anak di segala jenjang pendidikan.

Dalam setiap kegiatan siswa selalu diarahkan pada berbagai kecerdasan. Pada prakteknya nanti masing-masing siswa akan berbeda antara satu dengan yang lainnya tentang kecerdasan mana dari yang delapan itu yang lebih menonjol. Ada anak yang cerdas secara kinestetik, musik atau naturalistik. Materi apapun yang akan disampaikan kepada siswa diusahakan mengarah pada bidang mana yang diminati anak. Dengan cara seperti ini ujian akhir dilakukan dengan model portfolio; semua hasil karya siswa dikumpulkan dalam satu folder berikut dengan unjuk kebolehan yang pernah dilakukan siswa di depan kelas atau di depan publik.

Dengan model portfolio, hasil penilaian bukan dalam bentuk angka-angka tetapi dilihat secara kualitatif. Bagaimana anak merancang sebuah karya belajar dan kualitas belajarnya yang dinyatakan dengan poin Baik, Kurang Baik dan butuh bimbingan lebih lanjut dari guru. Portfolio pun memuat hasil non tes seperti hasil observasi guru terhadap perkembangan siswa dalam belajar. Dengan demikian hasil belajar anak selalu di up date dan dinilai secara kontiniu.

Di Indonesia model dan strategi pembelajaran yang mengacu pada kecerdasan majemuk ini sudah mulai diterapkan pada sebagian Taman Kanak-Kanak. Alangkah baiknya jika dilanjutkan pada tingkat SD sampai SMU bahkan Perguruan Tinggi. Sehingga memunculkan strategi yang sinkron dan berkesinambungan. Tentu konsep ini memiliki tantangan yang besar untuk dipelajari lebih lanjut dan dipraktekkan khususnya bagi para pendidik, pemerhati pendidikan dan para pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia.

Besar harapan kita semua bahwa sistem pendidikan yang memuat UAN sebagai hasil akhir belajar siswa di jenjang pendidikan tertentu membawa dampak yang bisa memacu anak untuk berkarya dan menjadi anak yang cerdas dan dihargai, bukan sebaliknya.

Cileungsi, 26 Juni 2009

Peduli Anak Indonesia

Selasa, 23 Juni 2009

SEMUA ANAK CERDAS



Atas konsep kecerdasan jamak yang diperkenalkan Howard Gardner pertama kali, masyarakat jadi memahami bahwa kecerdasan tidak lah hanya pada kecerdasan logika matematika saja, tetapi juga kecerdasan lain seperti intrapersonal, interpersonal, naturalistik, spiritual, bahasa, visual spasial, kinestetik dan musik. Anak yang cerdas akan terlihat sejak awal mula kelahirannya di bumi ini. Cara menilai kecerdasan itu bisa beragam tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Permasalahannya banyak orang tua terutama ibu yang melahirkan anak tersebut tidak bisa memahami kecerdasan itu sejak dini. Bagaimana cara melihat kecendrungan kecerdasan anak kita? Tulisan ini akan membahas tentang beberapa teknik atau cara melihat dan mengenali kecerdasan anak sejak usia dini;

Pertama;
dengan melihat minat yang ditunjukkan anak dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang senang bernyanyi, mudah sekali hafal lirik lagu yang baru beberapa kali didengarnya, cenderung memiliki kecerdasan musik. Apalagi jika anak senang memainkan benda layaknya memainkan alat instrumen musik. Seperti memukul kaleng menjadi drum band dan lain-lain.
Anak yang senang sekali bergerak ke sana kemari dengan memain-mainkan kaki seperti orang menendang atau memainkan tangan seperti seseorang sedang memukul, kemungkinan besar anak ini memiliki kecerdasan kinestetis yang cukup tinggi.

Kedua;
melalui kebiasaan yang sering dilakukan anak setiap hari. Jika anak seringkali menyampaikan pesan kepada ibu dengan cara menggerakkan seluruh tubuh; tangan, kaki dan kepala seolah tak pernah lelah menggerakkan badan meski hanya sekedar menyampaikan isi hatinya, kemungkinan anak cerdas body kinestetik. Atau anak yang senang sekali memberi makan kucing atau binatang kesayangannya setiap hari, anak ini cerdas naturalistik. Ada juga anak yang cerdas musik selalu menyampaikan kata dengan senandung yang diciptakan sendiri atau berdasarkan lagu-lagu terbaru yang populer.

Ketiga
; prestasi di sekolah juga bisa dijadikan patokan ke arah kecerdasan mana yang menonjol. Anak yang sering mendapat nilai 10 pada pelajaran matematika, maka dapat dikategorikan anak cerdas secara logika matematika. Sebaliknya anak yang sering mendapat poin tertinggi di bidang bahasa; pintar membacakan puisi, mengarang dan membaca, dikategorikan anak yang cerdas secara bahasa

Keempat; bertanya langsung kepada anak, apa hobinya. Jika hobinya menanam bunga, memelihara bianatang, maka kecerdasan yang akan berkembang adalah kecerdasan naturalis. Jika hobinya berbicara di depan umum seperti layaknya MC, maka hobi tersebut dapat mengasah kecerdasan interpersonal.

Kecerdasan mana pun yang muncul dan menonjol pada diri anak, seringkali berpadu dengan kecerdasan lain, misalnya kecerdasan interpersonal yang berpadu dengan kecerdasan bahasa atau yang lainnya. Yang jelas kecerdasan jamak tersebut tidak berdiri sendiri dan masing-masing anak memiliki potensi untuk bisa mengembangkan semua kecerdasan tersebut. Hanya pada banyak kasus, puncak tertinggi prestasi anak lebih berfokus pada satu atau dua kecerdasan. Sebagai contoh, Taufik Hidayat seorang pemain badminton yang cerdas kinestetis, Gita Gutawa yang cerdas musik, Choki seorang MC terkenal yang cerdas interpersonal, Ustaz Jefri Al Buchari yang cerdas spiritual dan interpersonal. Dan masih banyak lagi contoh-contoh profil orang-orang besar di negeri ini.
Dengan mengenali kecerdasan anak sejak dini semoga para orang tua bisa memberikan bimbingan secara terpadu pada anak. Sehingga anak-anak kita bisa menjadi anak-anak yang cerdas dan mampu mencapai puncak prestasinya sesuai dengan harapan dan impian anak, dan kita sebagai orang tua tentunya.



Cileungsi, 25 Juni 2009
Peduli anak Indonesia

MOTIVASI BERMAIN BADMINTON ANAK USIA DINI


Bermain bagi anak adalah kegiatan yang menyenangkan. Terutama jika permainan itu dilakukan sesuai dengan minat dan kecerdasan yang berkembang pada diri anak. Salah satu permainan yang menarik bagi anak adalah badminton atau bulu tangkis. Permainan ini sudah dilakukan sejak bertahun lalu oleh anak bangsa. Tercatat Lie Swie King pemenang All England tahun 1978 atau sekarang yang sedang populer adalah Taufik Hidayat pemain yang dilatih Pelatnas beberapa tahun belakangan ini.

Pukulan-pukulan yang diberikan serta gerakan yang memungkinkan anak menggerakkan motoriknya (masa dimana motorik sedang berkembang pesat) membuat anak bisa bermain lepas dan bebas mengekspresikan dirinya. Terutama anak-anak yang tergolong menonjol dalam kecerdasan body kinestetik. Dari permainan yang sifatnya hanya sekedar 'bermain' kemudian beralih pada permainan yang sudah diperlombakan atau dipertandingkan dalam turnamen-turnamen.
Ramainya peserta turnamen anak usia dini dalam bidang olah raga badminton menimbulkan pertanyaan. Apakah motivasi bermain di balik wajah-wajah lugu anak usia 2-9 tahun itu? Apakah sekedar bermain? atau ada dorongan yang berlebih dalam perlombaan tersebut.
Dari beberapa percakapan dengan orang tua anak, muncul dua motivasi yang umumnya
ada pada setiap anak yang ingin bermain dalam turnamen tersebut; pertama, motivasi instrinsik yang muncul dari dalam diri anak ketika pertama kali mengenal dunia badminton. Motivasi ini murni ada pada diri anak tanpa paksaan oleh orang tua atau siapapun. Anak-anak yang memiliki motivasi ini akan lebih mudah dididik dan dilatih di lapangan karena memang keinginan bermain muncul dari dalam dirinya tanpa harus dimunculkan orang lain. Kalaupun ada orang lain di luar dirinya, itu merupakan pelengkap dan fasilitator untuk keberhasilan bertanding.
Kedua,
motivasi ekstrinsik yang berseberangan dengan motivasi sebelumnya. Motivasi ekstrinsik ini muncul dari luar diri anak, seperti keinginan orang tua untuk memasukkan anaknya ke sekolah badminton meski tahu anaknya tidak berbakat dan berminat. Tapi demi ambisi orang tua, anak mengikuti turnamen dengan terlebih dahulu berlatih secara terpaksa di lapangan bersama pelatih yang kadang dibayar secara privat. Anak yang memiliki motivasi ini seringkali mengalami kejenuhan dalam berlatih karena harus menunggu ucapan orang tuanya 'kamu harus bisa, hayo...semangat ..., papah malu kalau kamu kalah...'dan ucapan lainnya yang senada.

Ketiga, perpaduan dari kedua motivasi sebelumnya yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Di samping anak masuk pelatihan atas kemauan sendiri, anak juga didukung oleh perhatian orang tua dan fasilitas yang memadai. Karena motivasi instrinsik saja ternyata tidak cukup untuk melahirkan 'bintang'. Dukungan orang tua juga sangat diperlukan apalagi yang terkait dengan masalah pendanaan.
Bukan rahasia umum jika untuk satu kali pertandingan saja peserta harus mengeluarkan uang puluhan ribu bahkan ratusan untuk membeli tiket peserta. Belum lagi kostum yang disarankan seragam untuk satu PB tempat si anak berlatih dan biaya transportasi, konsumsi selama pertandingan. Jika babak pertama kalah, anak tidak main lagi di babak berikut karena umumnya untuk anak usia dini memakai sistem gugur. Tetapi jika menang pada babak pertama maka harus mengikuti babak-babak berikutnya sampai final. Berapa kali pertandingan, berapa kali mengeluarkan dana. Tak heran jika ada turnamen-turnamen sejenis, banyak mobil-mobil mewah yang parkir di belakang Holl karena memang anak-anak dari kalangan tertentu lah yang sangat 'bisa' untuk berlomba. Meski anak-anak yang berasal dari keluarga 'sedang-sedang saja' juga bisa bermain, haruslah mendapatkan sponsor yang bisa mendanai sampai selesainya pertandingan. Tentu yang satu ini mempersyaratkan anak harus menang, kalau tidak, sponsor kecewa.
Pada akhirnya masyarakt juga yang harus menilai bagaimana perkembangan bulutangkis di Indonesia. PB Djarum misalnya yang telah melahirkan bintang-bintang pebulutangkis handal telah berusaha mendidik dan melatih anak-anak untuk mencapai prestasinya. Djarum juga memberikan beasiswa bagi anak yang berprestasi itu. Ini salah satu cara agar motivasi anak lebih ditingkatkan untuk tertarik dan mendalami olah raga yang satu ini. Sehingga motivasi instrinsik maupun ekstrinsik dapat terpadu dalam diri anak. Dan puncak prestasi pun dapat diraih pada waktu yang tepat.


Cileungsi, 25 juni 2009
Ba'da Turnamen Trinox Cup Anak Usia Dini


BERMAIN BADMINTON BAGI ANAK USIA DINI

Bermain merupakan aktivitas bermakna bagi anak usia dini. Dengan bermain anak-anak mempraktekkan apa yang telah pernah dilihat olehnya dalam kehidupan sehari-hari. Bermain juga merupakan praktek peralihan dari generasi dahulu pada generasi sekarang dan di masa yang akan datang. Tetapi seringkali bermain hanya sekedar menghabiskan waktu senggang dan dilakukan tanpa tujuan yang jelas. Bimbingan dari pendidik juga seringkali terabaikan dengan berbagai alasan; kesibukan orang tua, fasilitas bermain yang kurang atau kurangnya lahan tempat bermain di banyak kota besar Indonesia khususnya Jakarta.

Agar kegiatan bermain dapat dilakukan dengan maksimal dan efektif, perlu dibuat aturan main yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, kebutuhan individu dan arah kecerdasan yang ada pada diri anak. Anak-anak yang cerdas secara body kinestetik akan lebih senang jika permainan yang dilakukan melibatkan gerak badan dan koordinasi, baik motorik halus maupun motorik kasarnya.

Salah satu pilihan permainan yang dapat dilakukan bagi anak yang cerdas kinestetik adalah olah raga badminton. Olah raga ini bisa dijadikan permainan yang mengasikkan bagi anak jika dikelola dengan baik oleh pendidik dan pelatih yang menyenangi dunia anak-anak. atas kemampuannya memahami perkembangan anak serta teknik berlatih yang benar, anak bisa memanfaatkan waktu luang dan kegiatan bermainnya dengan baik.

Tempat berlatih pun relatif banyak dijumpai di kota-kota besar Jakarta. Holl yang membawahi Persatuan Bulutangkis (PB) dapat dijadikan wahana agar anak bisa dilatih dengan baik dan benar sesuai program yang sudah ditetapkan penyelenggara Holl. Meski harus membayar uang iuran bulanan atau mingguan, orang tua bisa mendampingi anak-anak ketika bermain di Holl maksimal tiga kali dalam satu minggu. Atau bagi anak yang merasa waktu tersebut masih kurang bisa menambah dengan privat setiap hari dengan pelatih. Hanya haruslah diperhatikan motivasi anak untuk bermain. Jangan sampai mereka terpaksa apalagi jika harus menuruti ambisi orang tua yang mengharuskan anak-anak berprestasi sejak usia dini tanpa memandang kemampuan dan kondisi anak.

Dengan bermain madminton anak-anak mengenal dunia olah raga, kesehatan, kebugaran dan persahabatan. Berbagai aspek perkembangan; kognitif, afektif dan psikomotorik pun dapat dikembangkan melalui permainan ini. Anak-anak jadi tahu bagaimana menangkis pukulan lawan, mencari strategi yang tepat agar pukulannya masuk pada sasaran, ketepatan dan kecepatan bola serta mengenal angka yang selalu disebut-sebut oleh wasit ketika angka 1 beralih ke 2 dan seterusnya.

Dengan bermain badminton anak-anak diajarkan bagaimana cara berdisiplin, mentaati aturan, mematuhi perintah, mengenal yang benar dan yang salah, memahami kelebihan dan kekurangan diri serta lawan yang dihadang. Dan ketika permainan ditutup dengan kekalahan atau kemenangan, mereka belajar untuk berjiwa besar menerima kekalahan sebagai sebuah pangkal kesuksesan dan kemenangan sebagai batu loncatan untuk bermain lebih baik lagi.

Akhirnya dengan bermain, anak-anak mampu menemukan jati dirinya yang di kemudian hari menjadi dasar perkembangan remajanya bahkan perkembangan di masa dewasa. Taufik Hidayat pun melalui masa anak-anak di dunia badminton dan bermain layaknya anak-anak. Kemudian berkembang menjadi juara kelas internasional. Itu semua berawal dari permainan masa kecil. Atas dukungan orang tua, pelatih yang ulung dan kemauan yang keras, Taufik menjadi icon badminton di seluruh negeri bahkan manca negara.

Sukses anak Indonesia. Raih prestasi dan aktualisasikan diri semaksimal mungkin. Gali potensi sejak usia dini. Dan lihat lah Indonesia di masa yang akan datang penuh dengan anak-anak yang berprestasi di bidang yang diminatinya. Amin.


Cileungsi, 25 Juni 2009
Ba'da Turnamen Tronix Cup Anak Usia Dini Bekasi