Jumat, 19 Februari 2010
A. Pengertian
Psikologi pendidikan tersusun dari dua kata yaitu psikologi dan pendidikan. Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata; psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa.
Menurut William James psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental. John B. memberikan defenisi psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behaviour) organisme.(Syah, 1997/ hal. 8)
Bersambung...
Kamis, 17 Desember 2009
Sabtu, 12 Desember 2009
namun ada juga dampak negatif. banyak orang berkenalan dengan berbagai kalangan di Fb dengan mengandalkan foto yang di pajang di beranda. kebagusan gambar itu sering memunculkan raa penasaran bagi pihak teman yang menaruh simpatik. kemudian berlanjut pada pertemuan di darat. eh ternyata di darat bentuknya biasa-biasa saja dan mengecewakan. yang lebih miris adalah semakin banyaknya jumlah perselingkuhan via face book yang sangat dikesalkan para pasangan pernikahan.hm..suami2 diam2 add cewek2 cantik di FB atau sebaliknya, istri2 yang add suami orang.runyam..
banyak kasus kriminal yang ditayangkan TV yang bermula dari pertemanan di FB.kemudian beranjak ke darat dan terjadilah pemerkosaan, pencurian anak, perselingkuhan dengan mantan pacar yang sudah lama tidak bertemu kemudian bersemi kembali...
makanya, buat kita2 yang sudah aktif di FB, harus kudu hati2. jangan gampang percaya dengan mereka yang sudah di add..ada kemungkinan kita lah targetnya...insyaallah..tidak terpedaya ya..amin.
Rabu, 28 Oktober 2009
PERKEMBANGAN ANAK (Sebuah Catatan Harian Umi)
Harapan yang begitu besar seperti ingin mendapatkan anak yang cerdas, sehat jasmani rohani, pandai matematika dan cakap berbahasa Indonesia ditambah lagi mengaji iqra, membuat aku terobsesi ingin memberikan stimulasi yang harus memenuhi semua keinginanku. Bayangku sederhana, dulu ketika aku sekecil Hafiz sudah bisa membaca, menulis, berhitung, mengaji, bernyanyi...tapi aku keliru menyamakan anakku dengan diriku yang berada pada periode masa yang berbeda. Kemampuan dan potensi yang kumiliki juga berbeda, wilayah tempat tinggalku juga berbeda, aku lahir di Jambi, Hafiz di Bogor...Sungguh tak bisa kita samakan zaman hidup kita dulu dengan zaman sekarang yang serba canggih dan sarat ICT.
Jadi aku sadari, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi berhasil atau tidaknya seorang anak dalam belajar di sekolah, diantaranya;
Kematangan yang berimbas pada motivasi diri
Kesiapan seorang anak dalam menerima informasi. Misalnya Hafiz yang baru bisa mengucapkan kata Umi dan Abi pada usia 2,5 tahun sudah aku masukkan TK di usia 4 tahun. Ini sebuah kekeliruan. Bagaimana bisa dia berkomunikasi verbal dengan sesama teman atau guru jika pada masa 4 tahun itu hanya beberapa kalimat saja yang baru dikuasainya. Ini menyulitkan dia belajar di kelas; tidak bisa mengikuti kecepatan belajar teman, ia cenderung menyendiri dan membuat hal-hal yang menarik perhatian orang padanya, sering bolos dengan alasan sakit, kalau pun masuk sekolah harus aku paksa dulu didorong masuk ke kelas dengan diiringi tangisan dan teriakan. Sungguh hari-hari yang melelahkan. Aku masih ingat tanganku memar digigit Hafiz pada saat dia tak mau berbaris mengikuti temannya upacara bendera. Anak sekecil itu disuruh upacara selama hampir setengah jam. Mengucapkan Pancasila yang tak dimengertinya. Sebenarnya bukan saja Hafiz yang mengalami masalah seperti ini, banyak anak terutama anak laki-laki. Mereka memiliki badan yang besar dari porsi anak lain karena gizi yang bagus (anak perumahan). Berbeda sekali dengan anak kampung sekitar yang berpostur kecil dan tidak bersekolah. Sikap Hafiz yang anarkhis merupakan bentuk kritik dan protesnya padaku. Karena dia belum siap bersekolah. Hanya dia mengungkapkan kritik itu melalui tindakan karena memang belum banyak kosakata yang dikuasainya. Perkembangan seperti ini ternyata berimbas ketika masuk SD. Di awal belajar di kelas SD, sikap sering bolos, malas dan sering meletakkan kepala di meja seperti ingin tidur. Ini merupakan sebuah kompensasi juga terhadap situasi yang dia tidak sukai. Seharusnya, Hafiz masuk TK di usia 6 tahun pada saat kematangan diri sudah maksimal di rumah barulah dia bersosialisasi di sekolah. Kematangan dan kesiapan itu bisa dilihat dari berbagai aspek seperti apakah anak sudah memiliki banyak kosa kata, mengucapkan kalimat, mengerti perintah... (kecerdasan bahasa). Apakah anak sudah mengenal konsep bilangan sederhana 1-10, menghitung banyak lompatan yang dilakukannya... (kecerdasan matematika). Mampu makan sendiri, toilet training, memasang kaos kaki sendiri (kecerdasan interpersonal). Mampu bercakap dengan orang lain, bekerjasama dengan teman, mau menolong...(kecerdasan interpersonal). Bisa berlari, menggunakan sepeda roda 3 atau 4, berjalan dan melompat...(kecerdasan kinestetis). Dan kecerdasan lainnya...Jika anak sudah matang dan siap bersekolah, insyaallah motivasi diri akan muncul dengan sendirinya. Dan dia pun bisa enjoy di sekolahnya; semua pelajaran diminati karena memang sudah saatnya ia tahu. Untuk kasus Hafiz sampai saat ini aku terus berupaya untuk membuat suasana belajar di rumah menyenangkan. Merangkai dengan kegiatan lain yang lebih bervariasi seperti penggunaan komputer untuk petualangan menghitung anak bebek, menyetel CD Juz Amma setiap pagi dan malam hari, agar selaras dengan pelajaran Juz Amma di sekolah, mengajak studi tur; pulang kampung ke Bukittinggi, melihat situasi kampung, sawah, sungai dan pemandangan, kemudian Hafiz disuruh menuliskan pengalamannya, berenang ke Eldorado dan lain-lain.
Lingkungan sekitar anak
Lingkungan ternyata juga berpengaruh. Tetangga yang mayoritas nonmuslim tidak menggambarkan suasana yang kita inginkan. Bila Ramadhan terlihat sepi dari aktivitas agama Islam kecuali jika kita pergi ke lingkungan sekitar mesjid. Anak-anak di sini jarang mengaji. Lebih suka nongkrong di PS atau warnet yang ada di sekitar rumah tetangga kami. Tak luput Hafiz juga ikut-ikutan seperti temannya. Lebih banyak bermain yang tak terkontrol dari pada belajar. Apalagi kalau musim layangan, sampai sakit bari berhenti tarik layangan. Hebatnya jika musim layangan, Hafiz jadi agen penjual layangan bagi teman-teman di sekitar rumah. Lumayan juga bakat bisnisnya (sering melihat abi yang juga pedagang di pasar).
Untuk mengatasi masalah ikut-ikutan ini, saya membatasi geraknya dengan cara memasukkan Hafiz ke sekolah SD Muhammadiyyah. Masuk sekolah jam 7.30 pulang jam 12 siang. Sisa harinya untuk bermain. Ba'da ashar Hafiz belajar mengaji iqra di rumah selama satu jam dengan Mida yang sengaja aku undang datang ke rumah untuk mengajar mengaji. Mida anak seorang Ustaz di kampung sebelah pintar mengaji dan sudah punya murid mengaji di kampungnya. Usianya 15 tahun dan hanya lulusan SD. Tapi tak mengapa, akhlaknya bagus dan rajin shalat. setiap hari dia juga ikut membantu aku membersihkan rumah jika Hafiz bersekolah. Sambil menunggu Hafiz pulang, sering kami berbicara mengenai perkembangan belajar Hafiz. Keputusan untuk mengajak Mida aku ambil setelah memberhentikan pembantu (Mba Juned). Selama dua tahun bekerja denganku, Mba sangat berpengaruh bagi perkembangan Hafiz. Dia tidak kan tega melihat Hafiz memakai kaos kaki sendiri, sepatu atau baju. Dia juga gak tega melihat Hafiz membawa buku banyak ke sekolah. Dan mandi pun Hafiz masih dimandikan oleh Mba. Alasan kenapa Mba berbuat demikian katanya, pertama karena memang pekerjaannya, tangungjawabnya. Kedua karena anaknya hanya satu dan sekarang sudah besar. Anak keduanya meninggal ketika berusia sekecil Hafiz. Jadi dia sangat sayang pada Hafiz dan memanjakannya. Aku sadar sikap Mba itu sangat tidak baik untuk perkembangan kemandirian dan slf esteem Hafiz tetapi Mba sulit aku ingatkan, disamping usianya sebaya dengan ibuku. Boleh dikata justru aku yang diatur oleh Mba padahal aku yang menggajinya tiap bulan. Ironis memang...
Untuk mengatasi masalah pengaruh lingkungan ini aku bekerjasama dengan suami tentunya, Mida dan guru di sekolah. Pada suami aku utarakan niatku memberhentikan Mba. Menyamakan persepsi tentang pola asuh, merubah perilaku yang tidak baik menjadi baik dan sesuai dengan tuntutan agama (meski kita orang tua banyak juga perilaku yang jelek yang harus dirubah). Berkomunikasi dengan guru baik melalui HP atau bertemu langsung pada saat rapat dan pengajian walimurid, guru Muhammadiyyah yang diadakan secara berkala. Aku pasti ikut bahkan sebelum jam acara. Kesempatan itu aku manfaatkan untuk bertanya pada guru tentang proses perkembangan belajar anak. Pertanyaan juga aku berikan pada guru wali kelas sebelumnya (guru wali kelas 1) meski sekarang Hafiz sudah kelas 2. Tujuannya supaya aku mendapatkan informasi dari pandangan guru terdahulu bagaimana menurutnya Hafiz yang sekarang dengan yang dulu. Ini menjadi asesmen penting buatku dalam memberikan stimulus lanjutan di rumah, sehingga ada kesesuaian antara pendidikan di sekolah dengan di rumah.
Pada Mida aku titipkan anakku jika aku sedang kuliah (ceritanya lagi ngambil program Doktor). Ini berbeda dengan dahulu waktu Hafiz masih balita. Dahulu aku percayakan anak pada pembantu yang tidak memiliki ilmu dan akhlak Islami. Pernah satu kali aku mencari pembantu ke Lampung. Setelah bekerja satu bulan berkerja, ternyata kuketahui dia seorang perempuan yang pernah bekerja di Pangkalan Bantar Gebang (lokasi WTS terbesar Jakarta). Astagfirullah...Itu aku ketahui dari pengakuannya sendiri. Katanya "saya pernah mengantar teman yang cantik ke seorang Oom Cina. Dan saya diberi tips".
Nah kembali pada faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, memang ada banyak faktor. Pada tulisan kali ini aku bahas dua saja dulu. Tentu ini pengalaman pribadi dan input yang aku dapatkan selama kuliah PAUD. Intinya, kita memang harus selalu waspada pada berbagai masalah anak. Jika ada masalah secepatnya cari solusi. Jangan sampai batas usia 8 tahun itu berlalu sia-sia tanpa ada perubahan sedikit pun atau justru kita menganggap anak kita baik-baik saja. Padahal banyak yang keliru dalam proses tumbuh kembangnya. Jika kita sebagai orang tua atau masyarakat yang peduli dengan anak usia dini memberikan perhatian pada mereka, insyaallah di masa depan anak-anak ini bisa menjadi manusia handal. Tidak ada lagi anak SMU yang tawuran, mahasiswa yang kecanduan narkoba atau hamil di luar nikah. Kasus-kasus seperti itu dimungkinkan sekali sudah bergejala sejak anak tersebut berusia dini. Hanya tidak disadari dan tidak ditindaklanjuti penyelesaian masalahnya.
Salam...
Inna shalati, wanusuki wamahyaya wa mamati, lillahirabbil alamin...
Sabtu, 19 September 2009
- Keamanan; keamanan lokasi memasak harus menjadi perhatian sebelum kita beraktivitas. Peletakan posisi strategis seperti colokan listrik untuk memblender, magic jar dan mesin cuci harus dipisahkan agar aman dan memudahkan kita bekerja. Begitu juga kompor dan gas yang digunakan. Bagi kita yang memiliki anak usia dini, ini menjadi perhatian khusus. Bila perlu beli alat untuk mengunci gas ketika gas tidak digunakan. Lantai tempat memasak juga perlu distandarkan, jangan terlalu licin atau terlalu kasar. Pilihlah keramik yang halus tetapi tidak licin. Dengan demikian memudahkan kita dalam membersihkan jika terdapat kotoran atau minyak yang menempel.
- Kebersihan; tentu kebersihan lokasi juga turut diperhitungkan. Kebersihan alat dan bahan makanan yang sudah dibeli di pasar, hendaknya dicuci terlebih dahulu. Ini untuk menghindari berpindahnya kuman ke dalam dapur kita.
- Tata letak peralatan masak; untuk memudahkan dan meringankan pekerjaan, sebaiknya letakkan alat yang sering digunakan pada posisi yang mudah terjangkau. Penempatan lemari gantung sangat membantu. Di dalamnya kita bisa menyimpan sendok, kecap, saos dan bumbu lainnya. Asalkan yang disimpan adalah barang-barang ringan yang tidak memberatkan lemari. Ini mengingat posisinya yang mengantung sehingga kita harus perkirakan barang apa saja yang bisa dimuat di dalamnya. Kemudian tempat pencuci piring juga tidak jauh dari lokasi memasak atau berada dekat dengan meja memasak.
- Basah dan kering; bagi dapur yang luas bisa dipisahkan antara dapur basah dan kering. Dapur basah misalnya tempat pencuci piring, mencuci bahan makanan; ikan, daging dan lainnya. Sedangkan dapur kering tempat kita mengadon bahan makanan sebelum dimasak
di dapur basah.
Jumat, 18 September 2009
.jpg)
BOLU PANDAN CINTA
Bahan:
Tepung teregu 200gr
Gula 100gr
Telur 4 butir
Margarin 100 gr (ditim)
Tbm 1 sendok makan
Baking powder 1/4 sendok teh
Daun Pandan 50 lembar
santan murni 1 00gr
Cara:
- Giling halus daun pandan. Campurkan dengan santan. Remes kuat dan saring.
- Masukkan gula dan telur ke dalam mangkuk mixer, aduk cepat selama 10 menit.
- Pelankan adukan, masukkan TBm, baking powder. Aduk lagi dengan pelan.
- Masukkan tepung kemudian margarin yang sudah ditim + sari pati pandan.
- Masukkan adonan ke dalam cetakan yang sudah dilumuri margarin dan tepung, bakar di atas api sedang.
AI.jpg)
Bahan:Ikan asin (maco laweh) 1/4 kg
Petai 3 papan
Cabe merah keriting 1 ons
Bawang merah 1/2 ons
Minyak goreng 1/4 kg
Garam 1 sendok makan
Cara:
- Ikan dicuci, keringkan. Petai cuci dan dipotong-potong.
- Giling cabe+garam sampai agak halus tambahkan bawang merah, giling lagi.
- Goreng petai dengan minyak panas sampai matang.
- Goreng ikan dengan minyak panas sampai matang.
- Tumis cabe yang sudah agak halus sampai wangi, kemudian masukkan ikan dan petai.Aduk rata, angkat.
.jpg)
Bahan:
Daging sapi muda 1kg
Kentang kecil 1/4kg (belah tak jadi)
Santan 1kg
Laos 1/2 ons iris tipis
Daun kunyit 1 lembar
Daun jeruk 3 lembar
Daun serai 3 lembar
Daun salam 3 lembar
Bumbu kering rendang 2 sendok makan
Bumbu:
Cabe merah keriting 1 ons
Jahe 1 ruas jari
Kemiri 4 buah
Bawang putih 4 buah
Bawang merah 10 buah
Merica 10 buah
Cara:
- Bumbu giling halus. Masukkan ke dalam wajan+satan+daun-daunan. Aduk di atas api sedang sampai mendidih (tabik minyak)
- Masukkan daging. Aduk sesekali saja, jangan sering sampai daging empuk. Kecilkan api kompor.
- Masukkan kentang, aduk sedikit sesekali sampai warna rendang kecoklatan. Angkat.
Minggu, 13 September 2009
MEKANISME PENYUSUNAN DISERTASI
(CATATAN KULIAH PERDANA 30 AGUSTUS 2009)
Bagi rekan-rekan yang tidak menghadiri kuliah perdana atau tidak sempat mencatat hasil perkuliahan pada hari pertama kita menempuh program doktor ini, widia mencoba mengulang ulas di sini. Semoga dapat bermanfaat dan dijadikan sebagai bahan semangat agar kita dapat menyelesaikan studi dengan cepat dan baik. Judul tulisan ini merupakan tema ceramah Prof. Dr. Mulyono Abdurrahman selaku Asdir 1 yang baru dilantik sekitar 20 hari lalu. Untuk lebih jelasnya mari kita baca ulasan berikut ini;
A. MATA KULIAH PROGRAM DOKTOR (S3) PAUD TAHUN 2009 UNJ
MKDU;
Filsafat Ilmu Lanjutan
Metodologi Penelitian Lanjutan
Statistika 2
MKDK;
Isu-isu Kritis dalam Pendidikan
Orientasi Baru dalam Pendidikan
MKK;
Neuro Psikolinguistik AUD
Teori Bermain AUD dan Aplikasinya
Teori-Teori Perkembangan
Assesment dan Intervensi Perkembangan AUD Lanjutan
Teori, Model dan Keputusan dalam Teknologi Pendidikan
Difusi dan Inovasi Pendidikan
MATRIKULASI;
Orientasi Baru Dalam Psikologi Pendidikan
Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam Pendidikan
Pembelajaran Terpadu
Perkembangan Anak Usia Dini
B. ALUR PERKULIAHAN
SEMESTER 1 (Agustus-Desember 2009)
Pada akhir perkuliahan semester 1, mahasiswa sudah diperbolehkan untuk mengajukan pengusulan promotor berikut judul disertasi yang diminati. Judul yang diambil berasal dari masalah yang layak untuk diteliti, diminati dan sanggup untuk dipecahkan. Boleh jadi judul ini akan mengalami perubahan pada sepanjang perkuliahan sampai masa bimbingan berakhir. Yang jelas judul ini sebaiknya sudah ada gambaran di akhir semester 1. Disertasi yang bagus adalah disertasi yang melawan arus. Artinya judul yang diangkat adalah judul yang memiliki nilai kebaruan, aktual dan dibutuhkan masyarakat.
Upayakan memanfaatkan masa perkuliahan dengan menghubungkan materi ajar dengan topik penelitian. Karena pada masa S3 ini mahasiswa dituntut untuk mampu berpikir analisis sintesis bukan berhenti pada tahap analisis saja. Banyak mahasiswa yang mampu mengikuti perkuliahan aktif dengan nilai yang sangat memuaskan, tetapi ketika memasuki masa bimbingan dengan promotor banyak mengalami kendala dari segi pola pikir. Ini menyebabkan lambatnya penyelesaian disertasi di kemudian hari.
Bagi mahasiswa yang berasal dari non kependidikan atau non PAUD diharapkan mengikuti mata kuliah matrikulasi untuk menunjang lengkapnya pemahaman mahasiswa terhadap PAUD. Mata kuliah ini disajikan bersamaan dengan mata kuliah regular yang sudah disusun sebelumnya. Mata kuliah matrikulasi ini ada 4 yaitu Orientasi Baru Dalam Psikologi Pendidikan, Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam Pendidikan, Pembelajaran Terpadu dan Perkembangan Anak Usia Dini.
SEMESTER 2 (Maret-Juli 2010)
SK Komisi Promotor sudah bisa dimiliki mahasiswa pada semester ini. Dan mahasiswa sudah diperbolehkan menghubungi dan berkonsultasi dengan promotornya. Karena memang sudah diajukan di akhir semester 1, sehingga proses administrasi menjadi lebih cepat, tidak harus menunggu sampai selesai ujian komprehensif.
SEMESTER 3 (Desember 2009-Pebruari 2010)
Mata kuliah yang ada di semester 3 dipindahkan pada semester pendek yakni pada hari liburan setelah semester 2 berakhir. Setelah lulus semua mata kuliah maka mahasiswa mengikuti ujian komprehensif. Selain harus lulus semua mata kuliah, nilai IP harus minimal 3,0. Yang diujikan adalah seluruh mata kuliah yang sudah dipelajari dengan tatanan yang komprehensif. Jadi aneh rasanya jika ada mahasiswa yang tidak lulus komprehensif padahal semua mata kuliah disajikan setiap semester. Mungkinkah mahasiswa tersebut hanya titip absen setiap jadwal kuliah? My be…
Langkah berikutnya adalah;
SEMINAR PROPOSAL
PENELITIAN
PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN
SEMINAR HASIL PENELITIAN
UJIAN TERTUTUP
UJIAN TERBUKA
WISUDA
Pada saat ujian tertutup mahasiswa diberi kesempatan mengulang untuk kedua kalinya, jika ujian pertama gagal. Tetapi pada saat ujian kedua gagal juga, maka mahasiswa yang bersangkutan di DO alias diberikan ijazah ‘pernah belajar di program S3 PAUD UNJ’. Sedangkan pada ujian terbuka, insyaallah semua mahasiswa yang sudah masuk ruang sidang dan mengikuti acara dengan baik atau kurang baik, 99% lulus jadi DOKTOR.
.jpg)