Kematangan seorang anak sangat menentukan ketertarikannya terhadap pelajaran sekolah yang diikutinya. Memasukan anak pada sekolah formal terlalu dini dengan metode konvensional tidak menjadi pilihan terbaik. Bukannya hasil yang bagus yang didapatkan justru masalah datang bertubi-tubi. Contohnya Hafiz (lahir 26 April 2002) anakku ini. Pada usia 4 tahun sudah kumasukkan TK umum yang berada dekat dari rumah. Dengan harapan dia bisa bersosialisasi dan mempelajari banyak hal di sekolah sejak usia dini. Sesuai dengan teori PAUD yang banyak aku baca dari berbagai referensi, bahwa anak harus diberikan stimulasi sejak usia dini yakni sejak ia dilahirkan sampai usia enam tahun (versi Indonesia). Versi Dunia dikatakan anak usia dini itu adalah sejak dilahirkan sampai berusia 8 tahun. Apapun batasannya, yang jelas memang ini adalah periode penting dalam tumbuh kembang anak sampai dia menuju dewasa.
Harapan yang begitu besar seperti ingin mendapatkan anak yang cerdas, sehat jasmani rohani, pandai matematika dan cakap berbahasa Indonesia ditambah lagi mengaji iqra, membuat aku terobsesi ingin memberikan stimulasi yang harus memenuhi semua keinginanku. Bayangku sederhana, dulu ketika aku sekecil Hafiz sudah bisa membaca, menulis, berhitung, mengaji, bernyanyi...tapi aku keliru menyamakan anakku dengan diriku yang berada pada periode masa yang berbeda. Kemampuan dan potensi yang kumiliki juga berbeda, wilayah tempat tinggalku juga berbeda, aku lahir di Jambi, Hafiz di Bogor...Sungguh tak bisa kita samakan zaman hidup kita dulu dengan zaman sekarang yang serba canggih dan sarat ICT.
Jadi aku sadari, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi berhasil atau tidaknya seorang anak dalam belajar di sekolah, diantaranya;
Kematangan yang berimbas pada motivasi diri
Kesiapan seorang anak dalam menerima informasi. Misalnya Hafiz yang baru bisa mengucapkan kata Umi dan Abi pada usia 2,5 tahun sudah aku masukkan TK di usia 4 tahun. Ini sebuah kekeliruan. Bagaimana bisa dia berkomunikasi verbal dengan sesama teman atau guru jika pada masa 4 tahun itu hanya beberapa kalimat saja yang baru dikuasainya. Ini menyulitkan dia belajar di kelas; tidak bisa mengikuti kecepatan belajar teman, ia cenderung menyendiri dan membuat hal-hal yang menarik perhatian orang padanya, sering bolos dengan alasan sakit, kalau pun masuk sekolah harus aku paksa dulu didorong masuk ke kelas dengan diiringi tangisan dan teriakan. Sungguh hari-hari yang melelahkan. Aku masih ingat tanganku memar digigit Hafiz pada saat dia tak mau berbaris mengikuti temannya upacara bendera. Anak sekecil itu disuruh upacara selama hampir setengah jam. Mengucapkan Pancasila yang tak dimengertinya. Sebenarnya bukan saja Hafiz yang mengalami masalah seperti ini, banyak anak terutama anak laki-laki. Mereka memiliki badan yang besar dari porsi anak lain karena gizi yang bagus (anak perumahan). Berbeda sekali dengan anak kampung sekitar yang berpostur kecil dan tidak bersekolah. Sikap Hafiz yang anarkhis merupakan bentuk kritik dan protesnya padaku. Karena dia belum siap bersekolah. Hanya dia mengungkapkan kritik itu melalui tindakan karena memang belum banyak kosakata yang dikuasainya. Perkembangan seperti ini ternyata berimbas ketika masuk SD. Di awal belajar di kelas SD, sikap sering bolos, malas dan sering meletakkan kepala di meja seperti ingin tidur. Ini merupakan sebuah kompensasi juga terhadap situasi yang dia tidak sukai. Seharusnya, Hafiz masuk TK di usia 6 tahun pada saat kematangan diri sudah maksimal di rumah barulah dia bersosialisasi di sekolah. Kematangan dan kesiapan itu bisa dilihat dari berbagai aspek seperti apakah anak sudah memiliki banyak kosa kata, mengucapkan kalimat, mengerti perintah... (kecerdasan bahasa). Apakah anak sudah mengenal konsep bilangan sederhana 1-10, menghitung banyak lompatan yang dilakukannya... (kecerdasan matematika). Mampu makan sendiri, toilet training, memasang kaos kaki sendiri (kecerdasan interpersonal). Mampu bercakap dengan orang lain, bekerjasama dengan teman, mau menolong...(kecerdasan interpersonal). Bisa berlari, menggunakan sepeda roda 3 atau 4, berjalan dan melompat...(kecerdasan kinestetis). Dan kecerdasan lainnya...Jika anak sudah matang dan siap bersekolah, insyaallah motivasi diri akan muncul dengan sendirinya. Dan dia pun bisa enjoy di sekolahnya; semua pelajaran diminati karena memang sudah saatnya ia tahu. Untuk kasus Hafiz sampai saat ini aku terus berupaya untuk membuat suasana belajar di rumah menyenangkan. Merangkai dengan kegiatan lain yang lebih bervariasi seperti penggunaan komputer untuk petualangan menghitung anak bebek, menyetel CD Juz Amma setiap pagi dan malam hari, agar selaras dengan pelajaran Juz Amma di sekolah, mengajak studi tur; pulang kampung ke Bukittinggi, melihat situasi kampung, sawah, sungai dan pemandangan, kemudian Hafiz disuruh menuliskan pengalamannya, berenang ke Eldorado dan lain-lain.
Lingkungan sekitar anak
Lingkungan ternyata juga berpengaruh. Tetangga yang mayoritas nonmuslim tidak menggambarkan suasana yang kita inginkan. Bila Ramadhan terlihat sepi dari aktivitas agama Islam kecuali jika kita pergi ke lingkungan sekitar mesjid. Anak-anak di sini jarang mengaji. Lebih suka nongkrong di PS atau warnet yang ada di sekitar rumah tetangga kami. Tak luput Hafiz juga ikut-ikutan seperti temannya. Lebih banyak bermain yang tak terkontrol dari pada belajar. Apalagi kalau musim layangan, sampai sakit bari berhenti tarik layangan. Hebatnya jika musim layangan, Hafiz jadi agen penjual layangan bagi teman-teman di sekitar rumah. Lumayan juga bakat bisnisnya (sering melihat abi yang juga pedagang di pasar).
Untuk mengatasi masalah ikut-ikutan ini, saya membatasi geraknya dengan cara memasukkan Hafiz ke sekolah SD Muhammadiyyah. Masuk sekolah jam 7.30 pulang jam 12 siang. Sisa harinya untuk bermain. Ba'da ashar Hafiz belajar mengaji iqra di rumah selama satu jam dengan Mida yang sengaja aku undang datang ke rumah untuk mengajar mengaji. Mida anak seorang Ustaz di kampung sebelah pintar mengaji dan sudah punya murid mengaji di kampungnya. Usianya 15 tahun dan hanya lulusan SD. Tapi tak mengapa, akhlaknya bagus dan rajin shalat. setiap hari dia juga ikut membantu aku membersihkan rumah jika Hafiz bersekolah. Sambil menunggu Hafiz pulang, sering kami berbicara mengenai perkembangan belajar Hafiz. Keputusan untuk mengajak Mida aku ambil setelah memberhentikan pembantu (Mba Juned). Selama dua tahun bekerja denganku, Mba sangat berpengaruh bagi perkembangan Hafiz. Dia tidak kan tega melihat Hafiz memakai kaos kaki sendiri, sepatu atau baju. Dia juga gak tega melihat Hafiz membawa buku banyak ke sekolah. Dan mandi pun Hafiz masih dimandikan oleh Mba. Alasan kenapa Mba berbuat demikian katanya, pertama karena memang pekerjaannya, tangungjawabnya. Kedua karena anaknya hanya satu dan sekarang sudah besar. Anak keduanya meninggal ketika berusia sekecil Hafiz. Jadi dia sangat sayang pada Hafiz dan memanjakannya. Aku sadar sikap Mba itu sangat tidak baik untuk perkembangan kemandirian dan slf esteem Hafiz tetapi Mba sulit aku ingatkan, disamping usianya sebaya dengan ibuku. Boleh dikata justru aku yang diatur oleh Mba padahal aku yang menggajinya tiap bulan. Ironis memang...
Untuk mengatasi masalah pengaruh lingkungan ini aku bekerjasama dengan suami tentunya, Mida dan guru di sekolah. Pada suami aku utarakan niatku memberhentikan Mba. Menyamakan persepsi tentang pola asuh, merubah perilaku yang tidak baik menjadi baik dan sesuai dengan tuntutan agama (meski kita orang tua banyak juga perilaku yang jelek yang harus dirubah). Berkomunikasi dengan guru baik melalui HP atau bertemu langsung pada saat rapat dan pengajian walimurid, guru Muhammadiyyah yang diadakan secara berkala. Aku pasti ikut bahkan sebelum jam acara. Kesempatan itu aku manfaatkan untuk bertanya pada guru tentang proses perkembangan belajar anak. Pertanyaan juga aku berikan pada guru wali kelas sebelumnya (guru wali kelas 1) meski sekarang Hafiz sudah kelas 2. Tujuannya supaya aku mendapatkan informasi dari pandangan guru terdahulu bagaimana menurutnya Hafiz yang sekarang dengan yang dulu. Ini menjadi asesmen penting buatku dalam memberikan stimulus lanjutan di rumah, sehingga ada kesesuaian antara pendidikan di sekolah dengan di rumah.
Pada Mida aku titipkan anakku jika aku sedang kuliah (ceritanya lagi ngambil program Doktor). Ini berbeda dengan dahulu waktu Hafiz masih balita. Dahulu aku percayakan anak pada pembantu yang tidak memiliki ilmu dan akhlak Islami. Pernah satu kali aku mencari pembantu ke Lampung. Setelah bekerja satu bulan berkerja, ternyata kuketahui dia seorang perempuan yang pernah bekerja di Pangkalan Bantar Gebang (lokasi WTS terbesar Jakarta). Astagfirullah...Itu aku ketahui dari pengakuannya sendiri. Katanya "saya pernah mengantar teman yang cantik ke seorang Oom Cina. Dan saya diberi tips".
Nah kembali pada faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, memang ada banyak faktor. Pada tulisan kali ini aku bahas dua saja dulu. Tentu ini pengalaman pribadi dan input yang aku dapatkan selama kuliah PAUD. Intinya, kita memang harus selalu waspada pada berbagai masalah anak. Jika ada masalah secepatnya cari solusi. Jangan sampai batas usia 8 tahun itu berlalu sia-sia tanpa ada perubahan sedikit pun atau justru kita menganggap anak kita baik-baik saja. Padahal banyak yang keliru dalam proses tumbuh kembangnya. Jika kita sebagai orang tua atau masyarakat yang peduli dengan anak usia dini memberikan perhatian pada mereka, insyaallah di masa depan anak-anak ini bisa menjadi manusia handal. Tidak ada lagi anak SMU yang tawuran, mahasiswa yang kecanduan narkoba atau hamil di luar nikah. Kasus-kasus seperti itu dimungkinkan sekali sudah bergejala sejak anak tersebut berusia dini. Hanya tidak disadari dan tidak ditindaklanjuti penyelesaian masalahnya.
Salam...
Inna shalati, wanusuki wamahyaya wa mamati, lillahirabbil alamin...
Harapan yang begitu besar seperti ingin mendapatkan anak yang cerdas, sehat jasmani rohani, pandai matematika dan cakap berbahasa Indonesia ditambah lagi mengaji iqra, membuat aku terobsesi ingin memberikan stimulasi yang harus memenuhi semua keinginanku. Bayangku sederhana, dulu ketika aku sekecil Hafiz sudah bisa membaca, menulis, berhitung, mengaji, bernyanyi...tapi aku keliru menyamakan anakku dengan diriku yang berada pada periode masa yang berbeda. Kemampuan dan potensi yang kumiliki juga berbeda, wilayah tempat tinggalku juga berbeda, aku lahir di Jambi, Hafiz di Bogor...Sungguh tak bisa kita samakan zaman hidup kita dulu dengan zaman sekarang yang serba canggih dan sarat ICT.
Jadi aku sadari, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi berhasil atau tidaknya seorang anak dalam belajar di sekolah, diantaranya;
Kematangan yang berimbas pada motivasi diri
Kesiapan seorang anak dalam menerima informasi. Misalnya Hafiz yang baru bisa mengucapkan kata Umi dan Abi pada usia 2,5 tahun sudah aku masukkan TK di usia 4 tahun. Ini sebuah kekeliruan. Bagaimana bisa dia berkomunikasi verbal dengan sesama teman atau guru jika pada masa 4 tahun itu hanya beberapa kalimat saja yang baru dikuasainya. Ini menyulitkan dia belajar di kelas; tidak bisa mengikuti kecepatan belajar teman, ia cenderung menyendiri dan membuat hal-hal yang menarik perhatian orang padanya, sering bolos dengan alasan sakit, kalau pun masuk sekolah harus aku paksa dulu didorong masuk ke kelas dengan diiringi tangisan dan teriakan. Sungguh hari-hari yang melelahkan. Aku masih ingat tanganku memar digigit Hafiz pada saat dia tak mau berbaris mengikuti temannya upacara bendera. Anak sekecil itu disuruh upacara selama hampir setengah jam. Mengucapkan Pancasila yang tak dimengertinya. Sebenarnya bukan saja Hafiz yang mengalami masalah seperti ini, banyak anak terutama anak laki-laki. Mereka memiliki badan yang besar dari porsi anak lain karena gizi yang bagus (anak perumahan). Berbeda sekali dengan anak kampung sekitar yang berpostur kecil dan tidak bersekolah. Sikap Hafiz yang anarkhis merupakan bentuk kritik dan protesnya padaku. Karena dia belum siap bersekolah. Hanya dia mengungkapkan kritik itu melalui tindakan karena memang belum banyak kosakata yang dikuasainya. Perkembangan seperti ini ternyata berimbas ketika masuk SD. Di awal belajar di kelas SD, sikap sering bolos, malas dan sering meletakkan kepala di meja seperti ingin tidur. Ini merupakan sebuah kompensasi juga terhadap situasi yang dia tidak sukai. Seharusnya, Hafiz masuk TK di usia 6 tahun pada saat kematangan diri sudah maksimal di rumah barulah dia bersosialisasi di sekolah. Kematangan dan kesiapan itu bisa dilihat dari berbagai aspek seperti apakah anak sudah memiliki banyak kosa kata, mengucapkan kalimat, mengerti perintah... (kecerdasan bahasa). Apakah anak sudah mengenal konsep bilangan sederhana 1-10, menghitung banyak lompatan yang dilakukannya... (kecerdasan matematika). Mampu makan sendiri, toilet training, memasang kaos kaki sendiri (kecerdasan interpersonal). Mampu bercakap dengan orang lain, bekerjasama dengan teman, mau menolong...(kecerdasan interpersonal). Bisa berlari, menggunakan sepeda roda 3 atau 4, berjalan dan melompat...(kecerdasan kinestetis). Dan kecerdasan lainnya...Jika anak sudah matang dan siap bersekolah, insyaallah motivasi diri akan muncul dengan sendirinya. Dan dia pun bisa enjoy di sekolahnya; semua pelajaran diminati karena memang sudah saatnya ia tahu. Untuk kasus Hafiz sampai saat ini aku terus berupaya untuk membuat suasana belajar di rumah menyenangkan. Merangkai dengan kegiatan lain yang lebih bervariasi seperti penggunaan komputer untuk petualangan menghitung anak bebek, menyetel CD Juz Amma setiap pagi dan malam hari, agar selaras dengan pelajaran Juz Amma di sekolah, mengajak studi tur; pulang kampung ke Bukittinggi, melihat situasi kampung, sawah, sungai dan pemandangan, kemudian Hafiz disuruh menuliskan pengalamannya, berenang ke Eldorado dan lain-lain.
Lingkungan sekitar anak
Lingkungan ternyata juga berpengaruh. Tetangga yang mayoritas nonmuslim tidak menggambarkan suasana yang kita inginkan. Bila Ramadhan terlihat sepi dari aktivitas agama Islam kecuali jika kita pergi ke lingkungan sekitar mesjid. Anak-anak di sini jarang mengaji. Lebih suka nongkrong di PS atau warnet yang ada di sekitar rumah tetangga kami. Tak luput Hafiz juga ikut-ikutan seperti temannya. Lebih banyak bermain yang tak terkontrol dari pada belajar. Apalagi kalau musim layangan, sampai sakit bari berhenti tarik layangan. Hebatnya jika musim layangan, Hafiz jadi agen penjual layangan bagi teman-teman di sekitar rumah. Lumayan juga bakat bisnisnya (sering melihat abi yang juga pedagang di pasar).
Untuk mengatasi masalah ikut-ikutan ini, saya membatasi geraknya dengan cara memasukkan Hafiz ke sekolah SD Muhammadiyyah. Masuk sekolah jam 7.30 pulang jam 12 siang. Sisa harinya untuk bermain. Ba'da ashar Hafiz belajar mengaji iqra di rumah selama satu jam dengan Mida yang sengaja aku undang datang ke rumah untuk mengajar mengaji. Mida anak seorang Ustaz di kampung sebelah pintar mengaji dan sudah punya murid mengaji di kampungnya. Usianya 15 tahun dan hanya lulusan SD. Tapi tak mengapa, akhlaknya bagus dan rajin shalat. setiap hari dia juga ikut membantu aku membersihkan rumah jika Hafiz bersekolah. Sambil menunggu Hafiz pulang, sering kami berbicara mengenai perkembangan belajar Hafiz. Keputusan untuk mengajak Mida aku ambil setelah memberhentikan pembantu (Mba Juned). Selama dua tahun bekerja denganku, Mba sangat berpengaruh bagi perkembangan Hafiz. Dia tidak kan tega melihat Hafiz memakai kaos kaki sendiri, sepatu atau baju. Dia juga gak tega melihat Hafiz membawa buku banyak ke sekolah. Dan mandi pun Hafiz masih dimandikan oleh Mba. Alasan kenapa Mba berbuat demikian katanya, pertama karena memang pekerjaannya, tangungjawabnya. Kedua karena anaknya hanya satu dan sekarang sudah besar. Anak keduanya meninggal ketika berusia sekecil Hafiz. Jadi dia sangat sayang pada Hafiz dan memanjakannya. Aku sadar sikap Mba itu sangat tidak baik untuk perkembangan kemandirian dan slf esteem Hafiz tetapi Mba sulit aku ingatkan, disamping usianya sebaya dengan ibuku. Boleh dikata justru aku yang diatur oleh Mba padahal aku yang menggajinya tiap bulan. Ironis memang...
Untuk mengatasi masalah pengaruh lingkungan ini aku bekerjasama dengan suami tentunya, Mida dan guru di sekolah. Pada suami aku utarakan niatku memberhentikan Mba. Menyamakan persepsi tentang pola asuh, merubah perilaku yang tidak baik menjadi baik dan sesuai dengan tuntutan agama (meski kita orang tua banyak juga perilaku yang jelek yang harus dirubah). Berkomunikasi dengan guru baik melalui HP atau bertemu langsung pada saat rapat dan pengajian walimurid, guru Muhammadiyyah yang diadakan secara berkala. Aku pasti ikut bahkan sebelum jam acara. Kesempatan itu aku manfaatkan untuk bertanya pada guru tentang proses perkembangan belajar anak. Pertanyaan juga aku berikan pada guru wali kelas sebelumnya (guru wali kelas 1) meski sekarang Hafiz sudah kelas 2. Tujuannya supaya aku mendapatkan informasi dari pandangan guru terdahulu bagaimana menurutnya Hafiz yang sekarang dengan yang dulu. Ini menjadi asesmen penting buatku dalam memberikan stimulus lanjutan di rumah, sehingga ada kesesuaian antara pendidikan di sekolah dengan di rumah.
Pada Mida aku titipkan anakku jika aku sedang kuliah (ceritanya lagi ngambil program Doktor). Ini berbeda dengan dahulu waktu Hafiz masih balita. Dahulu aku percayakan anak pada pembantu yang tidak memiliki ilmu dan akhlak Islami. Pernah satu kali aku mencari pembantu ke Lampung. Setelah bekerja satu bulan berkerja, ternyata kuketahui dia seorang perempuan yang pernah bekerja di Pangkalan Bantar Gebang (lokasi WTS terbesar Jakarta). Astagfirullah...Itu aku ketahui dari pengakuannya sendiri. Katanya "saya pernah mengantar teman yang cantik ke seorang Oom Cina. Dan saya diberi tips".
Nah kembali pada faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, memang ada banyak faktor. Pada tulisan kali ini aku bahas dua saja dulu. Tentu ini pengalaman pribadi dan input yang aku dapatkan selama kuliah PAUD. Intinya, kita memang harus selalu waspada pada berbagai masalah anak. Jika ada masalah secepatnya cari solusi. Jangan sampai batas usia 8 tahun itu berlalu sia-sia tanpa ada perubahan sedikit pun atau justru kita menganggap anak kita baik-baik saja. Padahal banyak yang keliru dalam proses tumbuh kembangnya. Jika kita sebagai orang tua atau masyarakat yang peduli dengan anak usia dini memberikan perhatian pada mereka, insyaallah di masa depan anak-anak ini bisa menjadi manusia handal. Tidak ada lagi anak SMU yang tawuran, mahasiswa yang kecanduan narkoba atau hamil di luar nikah. Kasus-kasus seperti itu dimungkinkan sekali sudah bergejala sejak anak tersebut berusia dini. Hanya tidak disadari dan tidak ditindaklanjuti penyelesaian masalahnya.
Salam...
Inna shalati, wanusuki wamahyaya wa mamati, lillahirabbil alamin...
.jpg)