MODEL UJIAN AKHIR NASIONAL BERBASIS KECERDASAN JAMAK
Diumumkannya hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) pada hari Senin kemarin berdampak serius bagi anak-anak Indonesia yang sudah menempuh ujian tersebut beberapa hari silam. Bagi yang lulus dengan nilai memuaskan dianggap sebagai sebuah prestasi yang baik. Bahkan di suatu daerah anak yang lulus dengan nilai tertinggi mendapatkan hadiah tiket pesawat terbang pulang pergi berlibur. Tetapi bagaimana dengan anak yang tidak lulus ujian? Mereka menangis, meraung bahkan pingsan seketika mendengar kabar dirinya tak lulus menempuh tes tertulis tersebut.
Pertanyaannya, apakah kecerdasan siswa hanya dinilai dengan hasil tes berupa angka-angka yang dipatok 5,20 atau 5,50? Apakah kecerdasan anak Indonesia sekerdil itu? Tidak lulusnya mereka dalam menempuh ujian bukan saja menyisakan kepedihan di hati siswa yang “gagal” tetapi juga membawa trauma bagi adik kelas yang akan menempuh ujian tahun depan atau tahun berikutnya. Adik kelas yang menyaksikan kejadian traumatis itu kemudian menyimpulkan bahwa UAN wajib menjadi momok kita di masa satu atau dua tahun ke depan sampai satu helai kertas kelulusan benar-benar sudah di tangan. Dan tak sedikit pula kemudian muncul pobia sekolah pada siswa tersebut.
Tak lulus ujian, tak mau pulang
Di sebuah SMK wilayah Rengat Riau misalnya, tercatat 60 siswa yang tidak lulus tahun ini. Sungguh di luar kebiasaan tahun-tahun silam. Sekolah yang terkenal sebagai sekolah percontohan ini mencetak rekor paling tinggi untuk tidak meluluskan siswa. Bagaimana dengan sekolah lain yang “biasa-biasa” saja? Anak-anak yang dinyatakan tidak lulus, berkumpul bersama menyerukan nasib mereka sampai dini hari tidak mau pulang ke rumah. Sebagian ada yang mau pulang tetapi diiming-imingi dulu dengan harapan palsu “kamu lulus ujian, sana pulang…” Itu pun hanya sebagian kecil yang mau pulang. Meski di rumah mereka dihadang dengan berbagai pertanyaan yang tentu membuat batinnya tambah berat saja.
Akankah UAN kita pertahankan sebagai sebuah penilaian akhir bagi anak-anak kita? Dengan teknik tes mengisi bulatan yang cocok dengan pensil 2B, yang jelas-jelas menguntungkan kaum pebisnis pensil? Berapa keuntungan yang diperoleh kaum tersebut dengan patokan setiap anak menghabiskan dua puluh ribu rupiah untuk persiapan ujian; satu set pensil beserta penghapus, surutan dan penggaris serta papan ujiannya. Alat itu harus asli dan terbaca komputer. Kalau tidak produk asli, jelas-jelas sudah terancam tidak lulus hanya karena bulatan pensil tidak terbaca komputer.
Jika UAN kita renovasi, model seperti apakah yang bisa dijadikan panduan dalam menilai keberhasilan siswa sehingga lebih bersifat manusiawi dan bisa membuat anak nyaman? Sepertinya kita harus lebih banyak belajar lagi dari pengalaman yang sudah menerapkan UAN ini dan melihat serta memahami efek dari hasil UAN tersebut.
Model ujian berbasis kecerdasan jamak (multiple intelligences)
Beberapa panduan bisa dijadikan pertimbangan dalam memunculkan model UAN yang lebih mengerti siswa diantaranya mengacu pada teori kecerdasan jamak (multiple intelligences) yang dimunculkan oleh Howard Gardner. Gardner mengatakan bahwa pada setiap individu sebenarnya memiliki kecerdasan yang beragam; kecerdasan visual spasial, body kinestetik, logika matematik, interpersonal, intrapersonal, kecerdasan musik, kecerdasan naturalistik dan spiritual. Delapan kecerdasan ini dijadikan basis dalam menerapkan strategi pembelajaran untuk anak di segala jenjang pendidikan.
Dalam setiap kegiatan siswa selalu diarahkan pada berbagai kecerdasan. Pada prakteknya nanti masing-masing siswa akan berbeda antara satu dengan yang lainnya tentang kecerdasan mana dari yang delapan itu yang lebih menonjol. Ada anak yang cerdas secara kinestetik, musik atau naturalistik. Materi apapun yang akan disampaikan kepada siswa diusahakan mengarah pada bidang mana yang diminati anak. Dengan cara seperti ini ujian akhir dilakukan dengan model portfolio; semua hasil karya siswa dikumpulkan dalam satu folder berikut dengan unjuk kebolehan yang pernah dilakukan siswa di depan kelas atau di depan publik.
Dengan model portfolio, hasil penilaian bukan dalam bentuk angka-angka tetapi dilihat secara kualitatif. Bagaimana anak merancang sebuah karya belajar dan kualitas belajarnya yang dinyatakan dengan poin Baik, Kurang Baik dan butuh bimbingan lebih lanjut dari guru. Portfolio pun memuat hasil non tes seperti hasil observasi guru terhadap perkembangan siswa dalam belajar. Dengan demikian hasil belajar anak selalu di up date dan dinilai secara kontiniu.
Di Indonesia model dan strategi pembelajaran yang mengacu pada kecerdasan majemuk ini sudah mulai diterapkan pada sebagian Taman Kanak-Kanak. Alangkah baiknya jika dilanjutkan pada tingkat SD sampai SMU bahkan Perguruan Tinggi. Sehingga memunculkan strategi yang sinkron dan berkesinambungan. Tentu konsep ini memiliki tantangan yang besar untuk dipelajari lebih lanjut dan dipraktekkan khususnya bagi para pendidik, pemerhati pendidikan dan para pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia.
Besar harapan kita semua bahwa sistem pendidikan yang memuat UAN sebagai hasil akhir belajar siswa di jenjang pendidikan tertentu membawa dampak yang bisa memacu anak untuk berkarya dan menjadi anak yang cerdas dan dihargai, bukan sebaliknya.
Cileungsi, 26 Juni 2009Peduli Anak Indonesia
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar