Selasa, 23 Juni 2009

SEMUA ANAK CERDAS



Atas konsep kecerdasan jamak yang diperkenalkan Howard Gardner pertama kali, masyarakat jadi memahami bahwa kecerdasan tidak lah hanya pada kecerdasan logika matematika saja, tetapi juga kecerdasan lain seperti intrapersonal, interpersonal, naturalistik, spiritual, bahasa, visual spasial, kinestetik dan musik. Anak yang cerdas akan terlihat sejak awal mula kelahirannya di bumi ini. Cara menilai kecerdasan itu bisa beragam tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Permasalahannya banyak orang tua terutama ibu yang melahirkan anak tersebut tidak bisa memahami kecerdasan itu sejak dini. Bagaimana cara melihat kecendrungan kecerdasan anak kita? Tulisan ini akan membahas tentang beberapa teknik atau cara melihat dan mengenali kecerdasan anak sejak usia dini;

Pertama;
dengan melihat minat yang ditunjukkan anak dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang senang bernyanyi, mudah sekali hafal lirik lagu yang baru beberapa kali didengarnya, cenderung memiliki kecerdasan musik. Apalagi jika anak senang memainkan benda layaknya memainkan alat instrumen musik. Seperti memukul kaleng menjadi drum band dan lain-lain.
Anak yang senang sekali bergerak ke sana kemari dengan memain-mainkan kaki seperti orang menendang atau memainkan tangan seperti seseorang sedang memukul, kemungkinan besar anak ini memiliki kecerdasan kinestetis yang cukup tinggi.

Kedua;
melalui kebiasaan yang sering dilakukan anak setiap hari. Jika anak seringkali menyampaikan pesan kepada ibu dengan cara menggerakkan seluruh tubuh; tangan, kaki dan kepala seolah tak pernah lelah menggerakkan badan meski hanya sekedar menyampaikan isi hatinya, kemungkinan anak cerdas body kinestetik. Atau anak yang senang sekali memberi makan kucing atau binatang kesayangannya setiap hari, anak ini cerdas naturalistik. Ada juga anak yang cerdas musik selalu menyampaikan kata dengan senandung yang diciptakan sendiri atau berdasarkan lagu-lagu terbaru yang populer.

Ketiga
; prestasi di sekolah juga bisa dijadikan patokan ke arah kecerdasan mana yang menonjol. Anak yang sering mendapat nilai 10 pada pelajaran matematika, maka dapat dikategorikan anak cerdas secara logika matematika. Sebaliknya anak yang sering mendapat poin tertinggi di bidang bahasa; pintar membacakan puisi, mengarang dan membaca, dikategorikan anak yang cerdas secara bahasa

Keempat; bertanya langsung kepada anak, apa hobinya. Jika hobinya menanam bunga, memelihara bianatang, maka kecerdasan yang akan berkembang adalah kecerdasan naturalis. Jika hobinya berbicara di depan umum seperti layaknya MC, maka hobi tersebut dapat mengasah kecerdasan interpersonal.

Kecerdasan mana pun yang muncul dan menonjol pada diri anak, seringkali berpadu dengan kecerdasan lain, misalnya kecerdasan interpersonal yang berpadu dengan kecerdasan bahasa atau yang lainnya. Yang jelas kecerdasan jamak tersebut tidak berdiri sendiri dan masing-masing anak memiliki potensi untuk bisa mengembangkan semua kecerdasan tersebut. Hanya pada banyak kasus, puncak tertinggi prestasi anak lebih berfokus pada satu atau dua kecerdasan. Sebagai contoh, Taufik Hidayat seorang pemain badminton yang cerdas kinestetis, Gita Gutawa yang cerdas musik, Choki seorang MC terkenal yang cerdas interpersonal, Ustaz Jefri Al Buchari yang cerdas spiritual dan interpersonal. Dan masih banyak lagi contoh-contoh profil orang-orang besar di negeri ini.
Dengan mengenali kecerdasan anak sejak dini semoga para orang tua bisa memberikan bimbingan secara terpadu pada anak. Sehingga anak-anak kita bisa menjadi anak-anak yang cerdas dan mampu mencapai puncak prestasinya sesuai dengan harapan dan impian anak, dan kita sebagai orang tua tentunya.



Cileungsi, 25 Juni 2009
Peduli anak Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar