.jpg)
Bermain bagi anak adalah kegiatan yang menyenangkan. Terutama jika permainan itu dilakukan sesuai dengan minat dan kecerdasan yang berkembang pada diri anak. Salah satu permainan yang menarik bagi anak adalah badminton atau bulu tangkis. Permainan ini sudah dilakukan sejak bertahun lalu oleh anak bangsa. Tercatat Lie Swie King pemenang All England tahun 1978 atau sekarang yang sedang populer adalah Taufik Hidayat pemain yang dilatih Pelatnas beberapa tahun belakangan ini.
Pukulan-pukulan yang diberikan serta gerakan yang memungkinkan anak menggerakkan motoriknya (masa dimana motorik sedang berkembang pesat) membuat anak bisa bermain lepas dan bebas mengekspresikan dirinya. Terutama anak-anak yang tergolong menonjol dalam kecerdasan body kinestetik. Dari permainan yang sifatnya hanya sekedar 'bermain' kemudian beralih pada permainan yang sudah diperlombakan atau dipertandingkan dalam turnamen-turnamen.
Ramainya peserta turnamen anak usia dini dalam bidang olah raga badminton menimbulkan pertanyaan. Apakah motivasi bermain di balik wajah-wajah lugu anak usia 2-9 tahun itu? Apakah sekedar bermain? atau ada dorongan yang berlebih dalam perlombaan tersebut.
Dari beberapa percakapan dengan orang tua anak, muncul dua motivasi yang umumnya
ada pada setiap anak yang ingin bermain dalam turnamen tersebut; pertama, motivasi instrinsik yang muncul dari dalam diri anak ketika pertama kali mengenal dunia badminton. Motivasi ini murni ada pada diri anak tanpa paksaan oleh orang tua atau siapapun. Anak-anak yang memiliki motivasi ini akan lebih mudah dididik dan dilatih di lapangan karena memang keinginan bermain muncul dari dalam dirinya tanpa harus dimunculkan orang lain. Kalaupun ada orang lain di luar dirinya, itu merupakan pelengkap dan fasilitator untuk keberhasilan bertanding.
Kedua, motivasi ekstrinsik yang berseberangan dengan motivasi sebelumnya. Motivasi ekstrinsik ini muncul dari luar diri anak, seperti keinginan orang tua untuk memasukkan anaknya ke sekolah badminton meski tahu anaknya tidak berbakat dan berminat. Tapi demi ambisi orang tua, anak mengikuti turnamen dengan terlebih dahulu berlatih secara terpaksa di lapangan bersama pelatih yang kadang dibayar secara privat. Anak yang memiliki motivasi ini seringkali mengalami kejenuhan dalam berlatih karena harus menunggu ucapan orang tuanya 'kamu harus bisa, hayo...semangat ..., papah malu kalau kamu kalah...'dan ucapan lainnya yang senada.
Ketiga, perpaduan dari kedua motivasi sebelumnya yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Di samping anak masuk pelatihan atas kemauan sendiri, anak juga didukung oleh perhatian orang tua dan fasilitas yang memadai. Karena motivasi instrinsik saja ternyata tidak cukup untuk melahirkan 'bintang'. Dukungan orang tua juga sangat diperlukan apalagi yang terkait dengan masalah pendanaan.
Bukan rahasia umum jika untuk satu kali pertandingan saja peserta harus mengeluarkan uang puluhan ribu bahkan ratusan untuk membeli tiket peserta. Belum lagi kostum yang disarankan seragam untuk satu PB tempat si anak berlatih dan biaya transportasi, konsumsi selama pertandingan. Jika babak pertama kalah, anak tidak main lagi di babak berikut karena umumnya untuk anak usia dini memakai sistem gugur. Tetapi jika menang pada babak pertama maka harus mengikuti babak-babak berikutnya sampai final. Berapa kali pertandingan, berapa kali mengeluarkan dana. Tak heran jika ada turnamen-turnamen sejenis, banyak mobil-mobil mewah yang parkir di belakang Holl karena memang anak-anak dari kalangan tertentu lah yang sangat 'bisa' untuk berlomba. Meski anak-anak yang berasal dari keluarga 'sedang-sedang saja' juga bisa bermain, haruslah mendapatkan sponsor yang bisa mendanai sampai selesainya pertandingan. Tentu yang satu ini mempersyaratkan anak harus menang, kalau tidak, sponsor kecewa.
Pada akhirnya masyarakt juga yang harus menilai bagaimana perkembangan bulutangkis di Indonesia. PB Djarum misalnya yang telah melahirkan bintang-bintang pebulutangkis handal telah berusaha mendidik dan melatih anak-anak untuk mencapai prestasinya. Djarum juga memberikan beasiswa bagi anak yang berprestasi itu. Ini salah satu cara agar motivasi anak lebih ditingkatkan untuk tertarik dan mendalami olah raga yang satu ini. Sehingga motivasi instrinsik maupun ekstrinsik dapat terpadu dalam diri anak. Dan puncak prestasi pun dapat diraih pada waktu yang tepat.
Cileungsi, 25 juni 2009
Ba'da Turnamen Trinox Cup Anak Usia Dini
Pukulan-pukulan yang diberikan serta gerakan yang memungkinkan anak menggerakkan motoriknya (masa dimana motorik sedang berkembang pesat) membuat anak bisa bermain lepas dan bebas mengekspresikan dirinya. Terutama anak-anak yang tergolong menonjol dalam kecerdasan body kinestetik. Dari permainan yang sifatnya hanya sekedar 'bermain' kemudian beralih pada permainan yang sudah diperlombakan atau dipertandingkan dalam turnamen-turnamen.
Ramainya peserta turnamen anak usia dini dalam bidang olah raga badminton menimbulkan pertanyaan. Apakah motivasi bermain di balik wajah-wajah lugu anak usia 2-9 tahun itu? Apakah sekedar bermain? atau ada dorongan yang berlebih dalam perlombaan tersebut.
Dari beberapa percakapan dengan orang tua anak, muncul dua motivasi yang umumnya
ada pada setiap anak yang ingin bermain dalam turnamen tersebut; pertama, motivasi instrinsik yang muncul dari dalam diri anak ketika pertama kali mengenal dunia badminton. Motivasi ini murni ada pada diri anak tanpa paksaan oleh orang tua atau siapapun. Anak-anak yang memiliki motivasi ini akan lebih mudah dididik dan dilatih di lapangan karena memang keinginan bermain muncul dari dalam dirinya tanpa harus dimunculkan orang lain. Kalaupun ada orang lain di luar dirinya, itu merupakan pelengkap dan fasilitator untuk keberhasilan bertanding.
Kedua, motivasi ekstrinsik yang berseberangan dengan motivasi sebelumnya. Motivasi ekstrinsik ini muncul dari luar diri anak, seperti keinginan orang tua untuk memasukkan anaknya ke sekolah badminton meski tahu anaknya tidak berbakat dan berminat. Tapi demi ambisi orang tua, anak mengikuti turnamen dengan terlebih dahulu berlatih secara terpaksa di lapangan bersama pelatih yang kadang dibayar secara privat. Anak yang memiliki motivasi ini seringkali mengalami kejenuhan dalam berlatih karena harus menunggu ucapan orang tuanya 'kamu harus bisa, hayo...semangat ..., papah malu kalau kamu kalah...'dan ucapan lainnya yang senada.
Ketiga, perpaduan dari kedua motivasi sebelumnya yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Di samping anak masuk pelatihan atas kemauan sendiri, anak juga didukung oleh perhatian orang tua dan fasilitas yang memadai. Karena motivasi instrinsik saja ternyata tidak cukup untuk melahirkan 'bintang'. Dukungan orang tua juga sangat diperlukan apalagi yang terkait dengan masalah pendanaan.
Bukan rahasia umum jika untuk satu kali pertandingan saja peserta harus mengeluarkan uang puluhan ribu bahkan ratusan untuk membeli tiket peserta. Belum lagi kostum yang disarankan seragam untuk satu PB tempat si anak berlatih dan biaya transportasi, konsumsi selama pertandingan. Jika babak pertama kalah, anak tidak main lagi di babak berikut karena umumnya untuk anak usia dini memakai sistem gugur. Tetapi jika menang pada babak pertama maka harus mengikuti babak-babak berikutnya sampai final. Berapa kali pertandingan, berapa kali mengeluarkan dana. Tak heran jika ada turnamen-turnamen sejenis, banyak mobil-mobil mewah yang parkir di belakang Holl karena memang anak-anak dari kalangan tertentu lah yang sangat 'bisa' untuk berlomba. Meski anak-anak yang berasal dari keluarga 'sedang-sedang saja' juga bisa bermain, haruslah mendapatkan sponsor yang bisa mendanai sampai selesainya pertandingan. Tentu yang satu ini mempersyaratkan anak harus menang, kalau tidak, sponsor kecewa.
Pada akhirnya masyarakt juga yang harus menilai bagaimana perkembangan bulutangkis di Indonesia. PB Djarum misalnya yang telah melahirkan bintang-bintang pebulutangkis handal telah berusaha mendidik dan melatih anak-anak untuk mencapai prestasinya. Djarum juga memberikan beasiswa bagi anak yang berprestasi itu. Ini salah satu cara agar motivasi anak lebih ditingkatkan untuk tertarik dan mendalami olah raga yang satu ini. Sehingga motivasi instrinsik maupun ekstrinsik dapat terpadu dalam diri anak. Dan puncak prestasi pun dapat diraih pada waktu yang tepat.
Cileungsi, 25 juni 2009
Ba'da Turnamen Trinox Cup Anak Usia Dini
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar