Selasa, 30 Juni 2009




KUNJUNGAN KE DINIYYAH PUTERI
5 MEI 2009

KENANGAN INDAH SEMASA SEKOLAH DI DINIYYAH PUTERI
Sudah sepuluh tahun tidak pernah berkunjung lagi ke Diniyyah Puteri (DP). Rindu melihat suasana anak asrama, masakan etek, lingkungan sekolah dan perpustakaan tempat mejeng penulis sehari-hari selepas dari rutinitas sekolah. Hanya susunan buku-buku di perpustakaan sekolah ini yang menjadi hiburan di sana selama kurun waktu enam tahun; 1993-1999 (DMP dan KMI/PK).
Di samping membaca buku, penulis juga hobi bernyanyi. Organisasi PMDS turut menjadi wadah pengembangan kreativitas bernyanyi lagu-lagu Minang yang sangat populer di masyarakat sekitar. Bila ada tamu yang datang ke sekolah kami karena studi tour atau sekedar bertamasya, penulis sering menyambut dengan lantunan lagu yang diiringi musik orgen. Sering pula di akhir acara pertemuan, kami menyuguhkan lagi atraksi permainan instrumental talempong untuk para tamu-tamu.
Puncak kreativitas kami muncul pada saat perayaan ulang tahun DP yang jatuh pada tanggal 1 November tiap tahun. Sekali dalam lima tahun dirayakan bersama secara besar-besaran. Momen ini merupakan momen terindah bagi penulis karena setiap hari dalam satu minggu, kami pentas seni; bernyanyi, menari, main alat musik dan drama peran di atas panggung maupun di halaman sekolah. Tak lupa kami juga memamerkan hasil kerajinan tangan seperti sulaman, jahitan, bordiran dan kreasi kue ulang tahun, hasil belajar keterampilan dengan guru di sekolah. Tak jarang hasil karya ini dilelang atau dijual pada para tamu pengunjung di hari ulang tahun DP.
Tak heran jika keterampilan-ketrampilan tersebut berdampak sekali dalam kehidupan kami sekarang setelah keluar dari asrama. Peran sebagai ibu rumah tangga sangat dibantu oleh ilmu yang sudah kami dapatkan di asrama dan di sekolah. Suami dan anak-anak suka dengan masakan ibu di rumah, dekorasi rumah, kenyamanan dan kebersihan selalu terjaga, begitu nasehat ibu Raji'ah Bei pada kami dulu di asrama. Bila ada pakaian yang rusak atau minta diperbaiki, penulis mampu menjahit dengan rapi. Penulis masih ingat, hasil bordiran berupa taplak meja di pakai oleh Ibu Isnaniah Shaleh di kantornya ketika beliau yang memimpin DP dulu.
Kini kenangan itu tetap ada. Dengan mengunjungi DP lagi, penulis mereview kembali tujuan pendidikan DP yang sudah dicanangkan Ibunda Rahmah Al Yunusiyyah tahun 1923 dulu. Sampai sekarang masih kokoh dipertahankan oleh generasi penerus, termasuk penulis sendiri. Dengan semangat yang beliau usung, begitu berpengaruh dalam jiwa penulis. Wanita harus mandiri, wanita harus berkarya dan mampu menjadi pendidik di rumahtangga, sekolah dan masyarakat. Insyaallah, tujuan DP akan selalu berkumandang di hati wanita Indonesia khususnya alumni DP yang sudah tersebar di seluruh pelosok negeri bahkan luar negeri.

KUNJUNGAN KE DINIYYAH PUTERI, 5 MEI 2009
Sepuluh tahun telah berlalu, DP masih tetap seperti yang dulu, berdiri kokoh di posisinya. Bahkan semakin melebarkan sayapnya. Jika dulu belum ada gedung khusus untuk MI sekarang sudah ada dan sangat megah. Jika dulu belum ada Training centre, sekarang sudah ada di sebelah gedung komputer yang sering kami kunjungi dulu. Mess untuk orang tua juga lebih bagus, bersih dan tertata rapi. Anak-anak sudah dapat mengecap arus komunikasi global seperti internet yang on line di asrama. Cara makan di dapur juga mengalami renovasi. Mereka tidak lagi ribet menyediakan piring dan peralatan makan lainnya, tetapi sudah disediakan asrama dalam bentuk yang sama untuk semua anak; kotak makan plastik yang rapi dan seragam.
Anak usia dini tertampung di PAUD bersebelahan dengan TK. Hanya satu yang berubah, tidak ada lagi Baba di sana. Dulu untuk pertama kali kami belajar dengan Baba yang dikirim Universitas Al Azhar Mesir untuk mendidik kami anak KMI/PK dalam ilmu agama Islam. Tapi ternyata sekarang sudah tidak ada lagi kerjasama dengan pihak Universitas Al Azhar itu. Perubahan lain terlihat pada penjagaan anak asrama. Dulu penjagaan begitu ketat. Setiap anak yang keluar dari asrama pasti ditanyakan satpam, apa tujuan keluar padahal bukan jam belajar di sekolah. Letak pos satpam juga begitu dekat di pintu asrama. Tapi kini posnya agak berjarak keluar mendekati gedung yang dulu berfungsi sebagai poliklinik. Satpam pun tidak terlalu galak.
Semua perubahan menyesuaikan perkembangan zaman. Dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak asrama. Ketika berkunjung lagi, secara pribadi penulis merasakan sambutan hangat guru-guru asrama dan teman yang masih di DP; mengajar, kuliah atau menjadi guru asrama. Sambutan yang penuh persaudaraan dan persahabatan persis ketika dulu penulis masih menempuh pendidikan di sana. Semua masih mengingat ketika dulu penulis menjadi siswa teladan di sana selama bertahun-tahun dan biduanita lagu Minang jika ada acara pentas seni.
Salam buat Ibu Butet, Ibu Ros, Yessy Putriyati, Kak Izul, Fitri dan adik-adikku di kelas akhir KMI/PK. Tulisan ini dirilis untuk anda semua. Foto-foto ini dimuat sesuai permintaan Fitri dan teman-teman. Tetap kontak ya.

1 Juli 2009

DP Bundo Kanduangku


Tidak ada komentar:

Posting Komentar